Rabu, 23 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
KOMPAS
Tim Menjelajah Ujung Kulon
Sabtu, 9 Mei 2009 | 07:13 WIB
KOMPAS/LUSIANA INDRIASARI
Salah satu primadona wisata di Kawasan Taman Nasional (KTN) Ujung Kulon adalah Pulau Peucang. Wilayah perairan di sekitar pulau tersebut banyak dikunjungi wisatawan karena keindahan terumbu karangnya.
TERKAIT:

LEBAK KOMPAS.com - Di hari terakhir, Sabtu (9/5) ini, Tim Ekspedisi Susur Selatan Jawa Harian Kompas 2009 akan masuk ke wilayah paling barat Pulau Jawa, yakni Pulau Ujung Kulon.

Karena jaraknya jauh, salah satu tim terpaksa berangkat sekitar pukul 03.00 tadi dari penginapan di Bayah, Kabupaten Lebak. Tim ini akan melihat kondisi terakhir hutan suaka alam Ujung Kulon serta persoalan sosial di sekitarnya.

Sementara itu tim lain masih akan melihat infrastruktur di wilayah selatan Banten ini. Antara lain persoalan sulitnya transportasi ke sejumlah kecamatan. Juga persoalan kesehatan masyarakat yang masih menjadi persolan serius di wilayah ini.

Masih berkait dengan infrastruktur dan dampaknya, tim akan mempertajam apa yang sudah didapat di sepanjang wilayah pantai selatan Jabar ini, tidak terlayaninya komunikasi publik seperti televisi. Sehingga, untuk bisa menikmati siaran televisi mereka harus memasang parabola.

Di bidang perekonomian, buruknya infrastruktur jalan membuat petani dan perajin gula kelapa tak bisa menjual produksinya langsung ke pasar. Mereka sangat tergantung pada  pedagang pengumpul dan bandar-bandar besar dari Sukabumi, Cianjur, bahkan Bogor. Tak jarang mereka terjerat pada sistem ijon yang merugikan.

Liputan lain adalah memotret kehidupan para penambang tradisional batu bara. Mereka harus bekerja keras sepanjang hari di dalam perut bumi. Mereka membuat lubang seperti sumur dengan kedalaman sekitar 20 meter. Melalui lubang sempit dekitar satu meter itu, tiga sampai tujuh orang setiap hari turun ke perut bumi. Di dalam, mereka menggangsir batu bara hingga sejauh 200 sampai 300 meter. Ketinggian lorong di bawah tanah itu bervariasi, tergantung ketebalan batu bara.

Jika beruntung, ketebalan lapisan batu bara sampai satu setengah meter, sehingga mereka lebih leluasa bekerja, dan hasilnya banyak. Tapi tak jarang ketebalan batu bara itu hanya beberapa puluh senti, sehingga mereka harus merunduk-runduk atau bahkan ndelosor untuk mencongkeli batu bara dan memasukkannya ke dalam karung-karung yang siap ditimba oleh pekerja yang di luar sumur.

Berapakah hasil yang didapat para penambang yang harus mempertaruhkan nyawa itu? Sama dengan perajin gula, mereka juga tak mendapat bagian banyak. Keterbatasan modal untuk membuat sumur menyebabkan mereka harus bergantung pada bos-bos besar.

Penulis: MSH,AHA,NIT   |   Loading...
Sent from Indosat BlackBerry powered by
    Font: A A A
  Kirim Komentar Anda
  • Loading data..
 
Kirim Komentar Anda
Silakan login untuk kirim komentar Anda.
Komentar
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
Dapatkan Informasi Kesehatan Disini!