Selasa, 22 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
KOMPAS
Jawa Barat, Awas Ancaman Hipertensi dan Jantung!
Selasa, 5 Mei 2009 | 16:55 WIB

BANDUNG, KOMPAS.com - Tingkat kemungkinan terkena penyakit hipertensi dan jantung di Jawa Barat di atas rata-rata nasional, menyusul tingginya perokok aktif di provinsi itu yang mencapai 26,7 persen.
    
"Dengan  kondisi jumlah perokok aktif setiap hari 26,7 persen, tingkat kemungkinan terkena penyakit hipertensi dan di Jabar tertinggi secara nasional," kata Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat, Alma Luchyati di Bandung, Senin.

Ia menyebutkan, tingkat prevalensi atau kemungkinan terkena hipertensi di Jabar mencapai 9,5 persen, sementara rata-rata nasional hanya 7,2 persen.

Sedangkan kemungkinan terkena penyakit jantung mencapai satu persen atau di atas rata-rata nasional 0,9 persen.
    
Untuk itu Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), kata Alma,  perlu senantiasa digelorakan sebagai sebuah gerakan sosial sekaligus moral yang massal.
    
"Itulah hakikat pembangunan sektor kesehatan sesungguhnya, dimana setiap individu dengan secara sadar dan teratur melaksanakan perilaku hidup bersih dan sehat," kata Alma.
     
Hasil riset yang dilakukan Dinas Kesehatan Jawa Barat pada tahun 2007 juga menyebutkan kebiasaan merokok di Jawa Barat rata-rata didominasi sejak usia remaja atau anak baru gede (ABG) 15-19 tahun, presentasinya mencapai 50,4 persen.
     
Disusul kelompok usia 20-24 tahun, sekitar 24,7 persen. Ironisnya perokok di usia anak-anak kelompok umur 10-14 tahun sebesar 11,9 persen, lebih banyak dibanding kelompok usia 25-29 tahun yang hanya 7,1 persen atau 5,8 persen untuk kelompok usia di atas 30 tahun.

Sementara itu Gubernur Jawa Barat  Jawa Barat H Ahmad Heryawan meminta masyarakat di provinsi itu mengurangi bahkan menghentikan kebiasaan merokok karena dampak rokok cukup besar baik kepada perokok aktif maupun pasif.

"Biaya yang dikeluarkan pemerintah akibat dampak rokok lebih besar dibandingkan penerimaan cukai dari rokok sendiri," kata Heryawan.

Ia menyebutkan, berdasarkan data yang dikeluarkan Dinas Kesehatan Jawa Barat, pada 2007 setiap hari perokok di Jawa Barat menghabiskan rokor rata-rata 8,68 batang.

Jika dikonversi dengan uang, biaya yang dikeluarkan sebesar Rp4.000 per hari per orang untuk mengkonsumsi rokok. Artinya setiap bulan menghabiskan Rp120.000 ribu per bulan atau Rp1,44 juta per tahun.

"Selain merugikan secara kesehatan, juga merugikan dari sisi ekonomi. Andaikata biaya rokok dialihkan untuk belanja kebutuhan pokok dan buku sekolah, maka hal itu lebih bermanfaat," kata Heryawan.

Yang terpenting, kata gubernur, dengan mengurangi dan berhenti merokok maka kesehatan dapat terjaga dengan baik.

Penulis: ABD   |   Loading...
Sent from Indosat BlackBerry powered by
    Font: A A A
  Kirim Komentar Anda
  • Loading data..
 
Kirim Komentar Anda
Silakan login untuk kirim komentar Anda.
Komentar
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
Dapatkan Informasi Kesehatan Disini!