Kamis, 18 September 2014
Selamat Datang   |      |  
KOMPAS
GERD Beda dengan Maag Lho!
Laporan wartawan KOMPAS Elok Dyah Messwati
Senin, 4 Mei 2009 | 21:23 WIB
shutterstock

JAKARTA, KOMPAS.com - Belum banyak orang Indonesia yang mengetahui tentang GERD (Gastroesophageal Reflux Disease). Umumnya penyakit yang berkaitan dengan asam lambung selalu dikira sebagai dyspepsia atau maag. Padahal GERD adalah penyakit kronik yang bisa mengakibatkan kanker kerongkongan atau kanker lambung.

"Asam lambung bisa naik dan mengakibatkan perlukaan di kerongkongan. Lama-lama bisa menjadi kanker kerongkongan," kata dokter ahli penyakit dalam dan konsultan penyakit lambung dan pencernaan Divisi Gastroenterologi Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI/RSCM dr H Ari Fahrial Syam SpPD KGEH, MMB di Jakarta, Senin (4/5).

GERD merupakan kondisi adanya aliran balik dari isi lambung ke kerongkongan yang menyebabkan gejala yang mengganggu hingga terjadi komplikasi.

Aliran balik asam lambung ke kerongkongan tidak hanya menjadi pemicu sindrom GERD (seperti naiknya aliran isi lambung ke kerongkongan atau regurgitasi ataupun nyeri dada seperti terbakar, heartburn) tetapi juga menyebabkan luka pada kerongkongan atau esofagitis. Alur balik isi lambung ini juga dilaporkan bisa menyebabkan atypical syndrome (seperti asthma reflux) yang dapat mengganggu aktivitas sehari-hari dan sulit diobati.

GERD yang tidak diterapi dengan baik dapat menyebabkan terjadinya komplikasi antara lain yaitu penyempitan kerongkongan, pendarahan kerongkongan dan kondisi yang disebut Barrett's esophagus (terjadi pembentukan jaringan pada dinding kerongkongan seperti yang ditemukan dalam usus) . Jika hal ini terjadi, perjalanan penyakit ini berhubungan dengan kanker kerongkongan.

"Saat ini di Indonesia belum ada angka yang pasti mengenai jumlah pednerita GERD, tetapi dari hospital base yang dapat ditelusuri ada sekitar 20 persen dari total pasien yang datang ke De partemen Ilmu Penyakit Dalam menyampaikan keluhan gejala GERD dari ringan hingga parah," kata dr Ari.

Faktor risiko penyakit GERD ini antara lain, obesitas, tidur terlentang (usai makan langsung tidur), merokok, alkohol, kopi dan stres.

"Kopi meningkatkan asam lambung, begitu juga stress. Jika ada sesuatu yang tidak beres di otak, maka otak memerintah lambung untuk memproduksi asam lambung," kata dr Ari.  

dr Mary Josephine dari PT AstraZeneca Indonesia mengatakan, dibandingkan dengan negara lain di Asia, Filipina 17 persen dan Taiwan 13 persen, maka hanya sekitar satu persen penduduk Indonesia yang mengenal apa itu GERD walaupun mereka sebenarnya telah menderita GERD selama bertahun-tahun sebelum akhirnya tahu bahwa ada solusi yang sederhana untuk mel egakan rasa sakit mereka.

Untuk mendapatkan informasi lebih lengkap mengenai GERD masyarakat bisa mengakses website http://www.asamlambung.com dimana ada konsultasi secara online.

 

Loading...
Sent from Indosat BlackBerry powered by
    Font: A A A
  Kirim Komentar Anda
  • Loading data..
 
Kirim Komentar Anda
Silakan login untuk kirim komentar Anda.
Komentar
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
Dapatkan Informasi Kesehatan Disini!