Selasa, 22 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
KOMPAS
Lalu Lintas Babi Lewat Pantura Menurun
Jumat, 1 Mei 2009 | 21:05 WIB
KOMPAS IMAGES/KRISTIANTO PURNOMO
Petugas rumah karantina hewan babi, Kapuk, Cengkareng, Jakarta Barat menyemprotkan disinfektan, Rabu (29/4). Merebaknya kasus flu babi, rumah karantina ini meningkatkan pencegahan dengan melakukan penyemprotan disinfektan dua kali sehari serta pengawasan lalu lintas ternak.

BRENES, KOMPAS.com - Arus lalu lintas ternak babi melewati pantura mulai turun, menyusul berkembangnya isu flu babi. Meskipun demikian, pemerintah tetap memperketat pengawasan terhadap babi yang melintas, untuk menghindari munculnya wabah flu babi.

Kepala Seksi Kesehatan Hewan Dinas Peternakan Kabupaten Brebes, Jhoni Murahman, Jumat (1/5) mengatakan, berdasarkan data dari Pos Pengawasan Lalu Lintas Ternak Tanjung, Brebes, arus lalu lintas babi mulai turun sejak sepekan lalu. Bisanya, jumlah babi yang melintas mencapai sekitar 400 ekor per hari, namun saat ini hanya sekitar 200 hingga 300 ekor per hari.

Meskipun jumlahnya menurun, pemerintah tetap memperketat pengawasan lalu lintas ternak babi. Menurut Jhoni, selain pemeriksaan terhadap kelengkapan dokumen ternak, petugas juga mengambil air liur babi untuk diperiksa secara klinis. Apabila ditemukan kecur igaan, petugas akan mengambil sampel darah pada binatang tersebut.

"Selain itu, pengetatan pengawasan juga dilakukan di lokasi peternakan. Hal itu dengan memeriksa kesehatan babi, memberikan disinfektan, serta memberikan masker kepada pemilik peternakan dan pegawai yang berhubungan langsung dengan babi. Orangnya juga diberi penyuluhan, dikasih tahu penyemprotan sepekan sekali, karena inkubasi penyakit sekitar lima hari," ujarnya.

Sementara itu, Koordinator Kompartemen Peternakan dan Pertanian Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Kota Tegal, Suatmo juga mengimbau peternak dan konsumen babi untuk waspada terhadap virus flu babi.

Menurut dia, jumlah populasi babi di tiga daerah, yaitu Kabupaten Brebes, Tegal, dan Kota Tegal hanya sekitar 50 ekor. "Meskipun demikian, pemerintah harus memperketat masuknya babi dan turunannya ke wilayah-wilayah tersebut. Justru karena populasinya sedikit, harus diperketat agar tidak banyak yang masuk," katanya.

Penulis: WIE   |   Loading...
Sent from Indosat BlackBerry powered by
    Font: A A A
  Kirim Komentar Anda
  • Loading data..
 
Kirim Komentar Anda
Silakan login untuk kirim komentar Anda.
Komentar
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
Dapatkan Informasi Kesehatan Disini!