
JAKARTA, KOMPAS.com — Kementerian Negara BUMN akan mendorong PT Asuransi Kesehatan (Askes) ikut mempromosikan penggunaan obat generik yang dinilai selama ini kurang berhasil.
"Askes akan dapat tugas tambahan ikut promosi obat generik," kata Menneg BUMN Sofyan Djalil di Kantor Kementerian BUMN, Jakarta, Jumat.
Menurutnya, jika Askes bisa mempromosikan obat generik tersebut, maka biaya kesehatan masyarakat bisa menurun.
Ia menjelaskan, potensi tugas mempromosikan obat generik terkait dengan jumlah kepesertaan Askes yang mencapai 40 juta peserta.
Selama ini diutarakan Sofyan, penggunaan obat generik sangat sedikit karena hanya digunakan untuk program-program kesehatan masyarakat oleh pemerintah.
"Saya pribadi pun menggunakan obat generik karena sama saja kualitasnya. Sama-sama sembuhnya. Bedanya obat generik gunakan paten yang "expired" (kedaluwarsa) sehingga bisa di-copy. Kalau obat lain memang mahal karena mengeluarkan biaya dalam hal riset termasuk biaya pemasaran," ungkapnya.
Lebih lanjut dijelaskan, besarnya skala pelayanan Askes bisa dijadikan sebagai instrumen kebijakan pulbik dalam menetapkan harga obat," ujarnya.
Dengan demikian, diutarakan Sofyan, harga obat di dalam negeri bisa lebih murah karena produksi obat generik meningkat.
Meski begitu ia tidak merinci kapan rencana tersebut dapat direalisasikan. Ia hanya menjelaskan, kalau Askes dapat membeli obat generik dan dipatenkan, maka hal itu akan dapat memberi dampak pada jumlah pemakaian di masyarakat.
Selama ini, ia menjelaskan, rata-rata harga obat di Indonesia sangat tinggi karena terlalu banyak komisi dan mata rantai penjualannya cukup panjang.
Selain itu, ia berujar, Askes melalui anak perusahaannya, PT InHealth, yang mengelola asuransi komersial, juga dapat mempromosikan obat generik sehingga penyebarannya lebih luas.