
JAKARTA, KOMPAS.com — Wabah flu babi yang menjadi pemberitaan utama di setiap media massa selama dua hari terakhir berpengaruh terhadap sikap warga Jakarta. Sebagian warga mengaku kini makin waspada, terutama berusaha agar tidak jatuh sakit. Namun, penjualan daging babi di sejumlah pasar tradisional tidak menurun.
"Saya masih belum paham, apa iya bisa terserang penyakit flu itu kalau kita pemakan daging babi. Terus terang, sampai saat ini, saya masih mengonsumsinya. Cuma lebih hati-hati saja memilih dagingnya," kata Ny Liliana (43) yang sedang berbelanja di Pasar Senen, Jakarta Pusat, Selasa (28/4).
Beberapa pedagang daging babi segar di Pasar Senen mengatakan, memang belum ada penurunan tingkat penjualan. Namun, sebagian konsumen gencar menanyakan asal daging babi, terutama bagi pedagang daging babi impor.
Suprihatin, pedagang daging babi, mengatakan, konsumen sekarang banyak memilih membeli daging babi lokal. "Daging babi impor rata-rata hanya dibeli oleh pengusaha restoran atau rumah makan tertentu," katanya.
Di rumah makan penyedia daging babi, seperti di kawasan Senayan, Jakarta Pusat, jumlah pelanggan hariannya juga tidak berkurang. Menurut Saragih, pemilik rumah makan, setiap hari sebanyak 100 kilogram daging babi habis terjual untuk berbagai jenis makanan, terutama menu babi panggang.
''Yang penting, kami memasaknya dengan cara benar sesuai standar kesehatan. Pelanggan juga percaya karena sudah menjadi konsumen kami selama bertahun tahun," kata Saragih.
Kepala Suku Dinas Kesehatan Jakarta Pusat Hakim Siregar mengimbau agar warga Jakarta tetap waspada. Flu babi ini bisa ditangkal asalkan kesehatan dan ketahanan tubuh selalu terjaga. Untuk itu, mengonsumsi makanan sehat dan bergizi seimbang amat disarankan.
"Jangan lupa olah raga rutin. Jika merasa khawatir, lebih baik memakan daging jenis apa pun dalam kondisi matang benar," kata Hakim Siregar.