KEDIRI, KOMPAS.com - Perusahaan daerah air minum Kabupaten Kediri belum mampu melayani kebutuhan masyarakat secara maksimal. Hal itu terlihat dari banyaknya kasus kekurangan air bersih dan pencegatan truk tanki untuk penyaluran air oleh masyarakat.
Direktur Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kabupaten Kediri Hendro Jusianto mengatakan pihaknya sering mendapat laporan truk tanki PDAM dicegat di suatu daerah saat hendak mengirim air ke daerah lain. Seperti yang terjadi baru-baru ini di Desa Babadan, Kecamatan Ngancar.
"Warga menghentikan paksa truk tanki yang akan mengantarkan air ke Kecamatan Kepung. Kami tidak menyalahkan warga karena mereka butuh air, hanya saja pengelolaan menjadi kacau," ujarnya Minggu (26/4).
Menurut Hendro pihaknya belum pernah mendapatkan permintaan pengiriman air di Desa Babadan, walaupun masyarakat di sana mulai kesulitan air bersih. Ia meminta kepada kepala desa atau camat agar menginventarisir daerahnya yang memerlukan pengiriman air.
"Sebab hanya camat dan kepala desa yang paling tahu kondisi daerahnya. Apalagi ini sudah musim kemarau, kebutuhan pengiriman air pasti meningkat," katanya.
Dengan mendata daerah yang kekurangan air bersih, pihaknya bisa mengatur jadwal pengiriman air. Walaupun harus diakui, adanya jadwal pengiriman air tidak menjamin seluruh kebutuhan masyarakat akan terpenuhi.
Pasalnya, PDAM sendiri memiliki keterbatasan armada untuk pengiriman air ke daerah-daerah. Hendro mengatakan saat ini pihaknya hanya memiliki lima unit truk tanki dengan kapasitas 5.000 liter.
Namun, dari lima truk tanki tersebut, hanya empat yang bisa beroperasi. Satu truk hanya berfungsi sebagai cadangan untuk digunakan dalam kondisi darurat karena kondisinya yang sering rusak.
Satu truk rata-rata setiap hari melakukan pengiriman enam kali bahkan bisa lebih. Itu dilakukan untuk melayani 198 titik dropping air di empat kecamatan yakni Plosoklaten, Ngancar, Puncu, dan Kepung.
Satu kali pengiriman diperlukan waktu rata-rata tiga jam. Dengan demikian, satu truk harus beroperasi minimal 18 jam per hari tanpa istirahat. Kebutuhan waktu tiga jam dihitung mulai dari pengisian tanki, pendistribusian sampai kembali lagi untuk pengambilan air.
Dengan kondisi seperti ini, pengiriman air tidak dapat dilakukan di lokasi yang sama setiap hari sehingga harus digilir. Melihat ada 198 titik krisis air, maka tidak semuanya bisa dilayani karena keterbatasan fasilitas, waktu dan tenaga itu tadi.
Hendro mengakui, kondisi krisis air tahun ini lebih parah dibanding tahun lalu. Hal itu disebabkan musim kemarau yang datang lebih awal. Sementara itu jangkauan pengiriman air ke masyarakat jauh lebih rendah.
"Tahun lalu kami sedikit tertolong karena ada bantuan dari beberapa pihak baik instansi maupun swasta. Namun tahun ini belum ada laporan," ucapnya.