Selasa, 22 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
KOMPAS
Kurang Gizi Juga akibat Organ Tak Berfungsi Baik
Senin, 20 April 2009 | 16:09 WIB
KOMPAS/KORNELIS KEWA AMA
Geraldino Dira (2) yang berberat badan 5,8 kilogram dirawat di salah satu ruang kelas III Kenanga, RSUD WZ Yohannes Kupang. Penderita gizi buruk itu sudah lima bulan terbaring sakit karena infeksi paru, demam, dan diare berat.
TERKAIT:

KOMPAS.com — Banyak faktor yang mengakibatkan terjadinya kasus malnutrisi. Badan Dunia untuk pendanaan bagi anak-anak atau Unicef (United Nations Children’s Fund) menyatakan ada dua penyebab langsung terjadinya kasus gizi buruk, yaitu kurangnya asupan gizi dari makanan dan akibat terjadinya penyakit yang mengakibatkan infeksi.

Kurangnya asupan gizi bisa disebabkan oleh terbatasnya jumlah makanan yang dikonsumsi atau makanannya tidak memenuhi unsur gizi yang dibutuhkan karena alasan sosial dan ekonomi, yakni kemiskinan.

Adapun malnutrisi yang terjadi akibat penyakit disebabkan oleh rusaknya beberapa fungsi organ tubuh sehingga tak bisa menyerap zat-zat makanan secara baik.

Faktor ketersediaan pangan yang bergizi dan terjangkau oleh masyarakat menjadi unsur penting dalam pemenuhan asupan gizi yang sesuai di samping perilaku dan budaya dalam pengolahan pangan dan pengasuhan anak.

Pengelolaan lingkungan yang buruk dan perawatan kesehatan yang tidak memadai juga menjadi penyebab turunnya tingkat kesehatan yang memungkinkan timbulnya beragam penyakit.

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyatakan, ada tiga faktor penyebab anak menderita gizi buruk khususnya balita. Faktor-faktor itu adalah keluarga miskin, faktor ketidaktahuan orangtua atas pemberian gizi yang baik bagi anak, dan faktor penyakit bawaan pada anak, seperti jantung, TBC, HIV/AIDS, saluran pernapasan, dan diare.                                                              

Kekurangan gizi pada anak dan balita juga dipicu oleh kekejaman perang. Kekurangan gizi pada anak-anak di bawah umur lima tahun (balita) di Distrik Mullaittivu di daerah Macan Tamil, Sri Lanka, yang bergolak mencapai 25 persen. Angka tersebut tertinggi di negara pulau itu. Demikian dikatakan Departemen Kesehatan dalam pernyataannya, mengutip hasil survei keluarga telantar akibat perang baru-baru ini.

Hasil-hasil itu diyakini mengindikasikan kurang gizi di kalangan anak-anak yang masih terperangkap di kawasan yang dikuasai pemberontak. Kekurangan gizi di daerah Macan Tamil, Sri Lanka, telah menyebar ke distrik lain di wilayah timur laut, Trincomalee. Daerah itu mencapai angka gizi buruk tertinggi, yakni 24 persen.

Kendati demikian, Departemen Kesehatan membantah suatu laporan dari seorang dokter di zona konflik bahwa kurang makan di daerah itu mencapai angka tertinggi sampai 69 persen untuk anak-anak balita.

Penulis: ABD   |   Loading...
Sent from Indosat BlackBerry powered by
    Font: A A A
  Kirim Komentar Anda
  • Loading data..
 
Kirim Komentar Anda
Silakan login untuk kirim komentar Anda.
Komentar
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
Dapatkan Informasi Kesehatan Disini!