Selasa, 2 September 2014
Selamat Datang   |      |  
KOMPAS
Rubai, Eksportir Gula Merah
Rabu, 15 April 2009 | 03:02 WIB
KOMPAS/RUNIK SRI ASTUTI

Oleh Runik Sri Astuti

Jika Anda berkunjung ke Jepang dan mencicipi berbagai makanan olahan berbahan gula merah, seperti sirup, kecap, atau kue-kue basah, jangan mengira itu asli Jepang. Sebab, bahan gula merahnya itu ada yang berasal dari Kabupaten Kediri, Jawa Timur.

Sudah 14 tahun Achmad Rubai (70) menjadi duta gula merah tradisional Indonesia ke Jepang. Dia menjadi produsen sekaligus eksportir tunggal untuk produk gula merah.

 Selama belasan tahun menekuni bisnisnya, Rubai tidak pernah absen melakukan pengiriman karena produknya telah mendapat tempat tersendiri di hati bangsa Jepang, mengalahkan produk sejenis buatan China, Vietnam, Thailand, India, dan Bolivia.

Sedikitnya 300 ton atau sekitar 15 peti kemas ukuran 20 kaki gula merah memasok pasar di Jepang setiap tahun. Dengan harga gula merah saat ini yang mencapai Rp 5.000 per kilogram, omzet Rubai mencapai lebih dari Rp 15 miliar per tahun.

Permintaan gula merah produksi Rubai terus meningkat walaupun kondisi pasar global tengah lesu. Itu karena produknya telah dikenal berkualitas bagus. Kadar gulanya mencapai 87 persen dengan kadar air hanya 5 persen.

Kelebihan inilah yang sulit ditandingi para kompetitor dari negara lain. Kualitas produk yang dihasilkan pesaing jauh di bawah produk Indonesia, tetapi mereka memiliki kelebihan yang tidak bisa dipandang remeh, yakni penawaran harga yang jauh lebih murah.

Gula merah buatan China dan Vietnam, misalnya, selisih harganya bisa mencapai sekitar 30 persen. Itu karena biaya produksi di kedua negara tersebut jauh lebih murah dibandingkan di Indonesia.

”Inilah yang menjadi masalah bagi eksportir di Indonesia pada umumnya. Kami sering kalah kalau bersaing soal harga karena biaya produksi terlalu tinggi, apalagi saat harga bahan bakar minyak naik seperti tahun 2008,” ujarnya.

Regenerasi

Selama bertahun-tahun malang melintang di dunia bisnis ekspor gula merah, Rubai nyaris tidak memiliki pesaing di negeri sendiri, baik dari Jatim maupun dari kota-kota lain di Indonesia.

Padahal, di tempat ia tinggal di Desa Slumbung, Kecamatan Ngadiluwih, Kabupaten Kediri, saja ada lebih dari 400 pengusaha gula merah tradisional ataupun modern.

Sayangnya, mereka masih berkutat di pasar lokal dan pasar nasional, belum sampai menembus pasar ekspor. Padahal, pangsa pasar gula merah di dalam negeri porsinya sangat terbatas.

Rubai sebenarnya sering berbagi pengetahuan dan ilmu kepada pengusaha gula merah di sekitarnya, terutama generasi muda, tentang cara memproduksi gula yang berkualitas agar mampu bersaing di pasar mancanegara.

Namun, hingga sekarang belum ada satu pun ”muridnya” yang berhasil. Bukan berarti Rubai merupakan ”guru” yang tidak baik karena gagal mendidik muridnya. ”Kebanyakan mereka menyerah di tengah jalan sebelum pelajaran selesai. Bahkan, untuk mengajari anak-anak saya sendiri saja susah sekali,” ujarnya.

Prestasi yang diraih Rubai memang bukan hasil kerja instan. Sukses yang dicapainya adalah buah kerja keras, ketekunan, keuletan, dan kesabaran selama bertahun-tahun. Tidak cukup hanya dengan mengandalkan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Kegagalan bertubi-tubi pernah ia alami. Namun, kakek 10 cucu ini tidak patah arang. Sebaliknya, kegagalan ia jadikan sebagai guru yang paling baik dalam hidupnya.

Rubai sendiri tak pernah mengenyam pendidikan formal hingga ke jenjang pendidikan menengah, apalagi perguruan tinggi. Ia hanya lulusan sekolah rakyat.

Pengetahuan dan keterampilan membuat gula merah pun diperoleh secara otodidak. Sejak kecil ia suka membantu ayahnya membuat gula merah. Dia baru membangun usaha pembuatan gula merah sendiri pada 1976.

Proses produksi

Gula merah buatan Rubai diproses secara sederhana. Tanaman tebu yang telah matang atau berumur sekitar 14 bulan dikepras dari akarnya dan dibersihkan dari daun-daun kering. Proses ini dilakukan di ladang.

Tebu kemudian dibawa ke pabrik pengolahan di belakang rumah Rubai, lalu digiling menggunakan mesin untuk mengeluarkan air gulanya.

Untuk menghasilkan kadar gula yang maksimal, yakni 87 persen, ia mendesain sendiri mesin penggilingan tebu. Namun, Rubai enggan menjelaskan detail desain mesin tersebut. Pembuatan mesin ini termasuk salah satu materi yang ia pelajari saat berada di Jepang.

Sebelum memiliki mesin penggilingan tebu dan pada saat Rubai masih memproduksi gula merah untuk pasar lokal, ia menggunakan alat pemeras tradisional yang digerakkan oleh tenaga sapi untuk mendapatkan sari tebu. Cara ini masih dipakai para pembuat gula merah lokal di Kabupaten Kediri sampai sekarang.

Air tebu dengan kadar gula yang tinggi itu selanjutnya dimasak di tungku sampai air gula mengental dan berwarna coklat kemerah-merahan. Selama proses pemasakan di tungku, gula harus terus-menerus diaduk secara manual menggunakan tenaga manusia agar matang merata dan tidak gosong. Untuk memasak gula, Rubai menggunakan bahan bakar daun tebu yang telah kering.

Setelah masak, gula merah dimasukkan ke dalam cetakan berbentuk persegi empat dengan ukuran sekitar 20 cm x 30 cm dan dibiarkan dingin. Setelah dingin gula merah dibungkus untuk dipasarkan.

Tidak ada bahan campuran lain yang ditambahkan Rubai ke dalam gula merah produksinya. ”Kami tidak memakai pewarna ataupun bahan pengawet karena itu sangat berbahaya bagi kesehatan. Justru dengan menjaga kemurnian kualitas gula, gula merah produksi kami bisa tahan selama setahun,” ujarnya.

Karena tidak memakai pewarna itu pula gula merah yang diproduksi Rubai tidak berwarna merah seperti gula merah yang dijual di pasar tradisional di dalam negeri. Gula buatan Rubai justru berwarna coklat kemerah-merahan (semu merah).

 Pendidik

Membuat gula merah sebenarnya bukanlah cita-cita tunggal Rubai. Sebelum terjun sebagai perajin, ia lebih dulu menekuni profesi sebagai pengajar di madrasah diniyah dan madrasah ibtidaiyah yang dikelola oleh Yayasan Mujahidin.

Suatu hari pada awal tahun 1994, seorang pengusaha Jepang yang sering membeli kayu dari Surabaya bertamu ke rumahnya. Pengusaha itu mendapat informasi tentang Rubai karena namanya telah dikenal sebagai pembuat gula merah terbaik di Jatim.

”Sebelum memesan gula merah untuk dibawa ke negerinya, orang Jepang itu tinggal di rumah kami selama 25 hari untuk melihat langsung proses mulai dari pemilihan tebu sampai pengolahan menjadi gula merah,” katanya.

Setelah itu, giliran Rubai yang pergi ke Jepang untuk menimba ilmu bagaimana cara membuat gula merah yang berkualitas dan bersih. Ia berada di Jepang selama satu minggu.

Sepulang dari Jepang Rubai langsung mempraktikkan ilmunya. Namun, hasilnya masih kurang memuaskan. Setelah bertahun-tahun melakukan perbaikan, barulah produknya dinyatakan benar-benar layak ekspor.

Dalam usianya yang tidak muda lagi, Rubai berharap industri gula merah tradisional yang merupakan industri kerajinan rakyat turun-temurun berkembang lebih baik dan tidak punah karena perubahan peradaban.

Loading...
Sent from Indosat BlackBerry powered by
    Font: A A A
  Kirim Komentar Anda
  • Loading data..
 
Kirim Komentar Anda
Silakan login untuk kirim komentar Anda.
Komentar
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
Dapatkan Informasi Kesehatan Disini!