Kamis, 24 Juli 2014
Selamat Datang   |      |  
KOMPAS
Antisipasi Stres Pasca Pemilu
Laporan wartawan KOMPAS Evy Rachmawati
Minggu, 12 April 2009 | 15:18 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Pasca Pemilu tahun 2009, para calon anggota legislatif rawan terserang gangguan stres. Hal ini disebabkan hanya sedikit dari mereka yang bisa terpilih sebagai anggota legislatif mengingat terbatasnya jumlah kursi di DPR daerah maupun pusat. Oleh karena itu, masalah gangguan kejiwaan itu perlu diantisipasi sejak awal.

Hal ini diungkapkan Pengurus Perhimpunan Dokter Spesialis Ahli Penyakit Dalam Indonesia (PB PAPDI dr Ari Fahrial Syam yang juga staf pengajar Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia-Rumah Sakit Umum Pusat Cipto Mangunkusumo, dalam makalahnya, Minggu (12/4), di Jakarta.

Menurut Ari, Pemilu 2009 merupakan pemilihan umum yang berbeda dibandingkan pemilu sebelumnya. Pada Pemilu 2009, pemilih langsung memilih calon legeslatif.

"Calon terpilih berdasarkan suara terbanyak bukan berdasarkan nomor urut. Jumlah partai yang banyak-membuat calon legislatif juga banyak sedang kursi untuk menjadi anggota sangat-sangat terbatas. Kondisi ini merupakan stressor penting yang bisa dialami para caleg yang gagal," ujarnya.  

"Pengendalian diri, tidur yang cukup dan makan teratur serta siap menerima kegagalan harus selalu dikondisikan agar mereka yang mengalami kegagalan tersebut tidak mengalami stress yang berkelanjutan sehingga fisik dan jiwanya tetap sehat seusai pemilu ", kata Ari menambahkan.

Ari menyatakan, kegagalan merupakan faktor pencetus stress. Kegagalan sebenarnya umum terjadi , tapi kegagalan yang banyak orang seperti gagal jadi anggota legislatif faktor pencetus tersendiri. Kegagalan jadi anggota legislatif, apalagi dikuti hal-hal lain seperti terlibat utang atau habisnya harta benda, akan menambah stress tersendiri. Karena itu kegagalan para caleg, terutama yang merasa akan berhasil jadi anggota dewan, merupakan stress tertentu bagi caleg bersangkutan.

Stress merupakan faktor risiko untuk timbulnya berbagai penyakit seperti depresi, gangguan psikosomatik dan gangguan jiwa lain serta kambuhnya berbagai penyakit kronis ya ng dicetuskan oleh stress ini. Penderita depresi biasanya murung, sedih, dan berusaha menghindar dari orang banyak. "Stress bisa menyebabkan gangguan jiwa seseorang, yang akhirnya dapat mengganggu fisik seseorang," ujarnya .

Berbagai gangguan sistem organ bisa terjadi akibat faktor stress itu. Gangguan fisik yang disebabkan stress selanjutnya sering disebut sebagai gangguan psikosomatik. Gangguan psikosomatik terjadi akibat gangguan keseimbangan saraf otonom, sistem-hormonal tubuh, gangguan organ tubuh serta sistem pertahanan tubuh.

Berbagai keluhan yang dapat timbul saat seseorang mengalami stress antara lain sakit kepala, pusing melayang, tangan gemetar, sakit leher, nyeri punggung dan otot terasa kaku, banyak keringat terutama pada ujung-ujung jari tangan dan kaki.

Keluhan fisik lainnya adalah ujung-ujung jari tangan dan kaki terasa dingin, gatal-gatal pada kulit tanpa sebab jelas, nyeri dada, nyeri ulu hati, perut kembung dan diare.

"Namun, perlu diperhatikan gejala-gejala yang timbul ini bisa karena ada penyakit organik artinya memang sudah ditemukan kelainan sebelumnya.Oleh karena itu, harus dipastikan dulu bahwa tidak ada penyakit organik sampai mendapat kesimpulan kalau keluhan-keluhan itu karena penyakit psikosomatik yang dicetuskan stress. Gangguan stress juga akan memperburuk penyakit-penyakit kronik yang sudah ada sebelumnya," kata Ari.

Untuk mengatasi stress, pengendalian diri terhadap faktor stressor yang terjadi harus dilakukan. Mereka yang mengalami gangguan penyakit itu juga perlu mendapat obat-obatan untuk mengontrol berbagai keluhan yang terjadi. Hal ini perlu dilakukan, mengingat gejala-gajala fisik yang dirasakan pasien harus diatasi agar tidak bertambah stress akibat dari gejala-gejala fisik yang timbul akibat stress psikis tadi. Sebagai contoh jika merasakan sakit kepala maka sakit kepala harus diatasi.

Masalah tidur juga merupakan masalah yang harus diatasi mengingat jika pasien tersebut kurang tidur maka kondisi fisiknya akan bertambah turun. Dalam situasi dan kondisi saat ini, banyak caleg sulit tidur karena cemas menanti hasil akhir pemilu meski sebagian sudah bisa dipastikan dapat lolos jadi anggota dewan atau tidak. Asupan makan yang buruk juga akan memperburuk kondisi seseorang yang menderita stress.

"Selain pengendalian diri terhadap stress, masalah fisik yang timbul akibat dari gangguan psikis juga perlu mendapat penanganan yang serius, sehingga komplikasi yang terjadi akibat dari dampak stress tadi dapat teratasi," kata Ari .

Kondisi ini juga harus dipahami para dokter yang menangani agar pengobatan yang dilakukan kepada para caleg yang menderita sakit pasca pemilu bisa optimal.

 

Loading...
Sent from Indosat BlackBerry powered by
    Font: A A A
  Kirim Komentar Anda
  • Loading data..
 
Kirim Komentar Anda
Silakan login untuk kirim komentar Anda.
Komentar
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
Dapatkan Informasi Kesehatan Disini!