
JAKARTA, KOMPSAS.com — Rumah Sakit (RS) Duren Sawit, Jakarta Timur, menyiapkan tim rehabilitasi mental untuk menangani calon anggota legislatif (caleg) yang mengalami depresi karena gagal menjadi legislator dalam pemilihan umum (Pemilu) tahun 2009 ini. Tim tersebut akan melayani permintaan masyarakat selama 24 jam.
"Tim rehabilitasi kami akan datang menjemput pasien jika ada caleg untuk DPR, DPRD, dan DPD (Dewan Perwakilan Daerah) yang mengamuk dan sampai meresahkan atau membahayakan masyarakat," ujar Penanggung Jawab Public Service Center (PSC) RS Duren Sawit, Jakarta Timur, M Guntur, Rabu (8/4).
Guntur menjelaskan, masyarakat dapat menghubungi tim rehabilitasi jika kondisi tingkatan caleg yang depresi sudah dianggap meresahkan masyarakat, baik merusak di tempat pemungutan suara apalagi sampai membawa senjata tajam.
Dia mengatakan, warga bisa menghubungi tim rehabilitasi RS Duren Sawit dengan menelepon ke 021-8615555 atau telepon penanggung jawab PSC 08159208140.
"Tim rehabilitasi akan langsung meluncur begitu mendapat telepon dari warga," papar Guntur.
Rawat jalan
Menurut dia, pasien depresi tidak selalu harus menjalani pengobatan dengan cara dirawat inap. Sebagian besar dari pasien tersebut biasanya hanya membutuhkan konsultasi dan pembimbingan dari psikiater atau dokter kejiwaan.
Oleh karena itu, Guntur mejelaskan, pihaknya tidak menyediakan kamar khusus buat para caleg yang gagal pemilu, seperti yang dilakukan oleh rumah sakit lainnya.
Pertimbangan lain sehingga pihaknya tidak menyediakan kamar khusus, kata Guntur, karena dalam kehidupan masyarakat berobat ke bagian kejiwaan merupakan aib.
Menurut Guntur, rumah sakit ini dilengkapi dengan instalasi gawat darurat (IGD) bagian kejiwaan. Sarana tersebut bisa digunakan jika pasien depresi membeludak. "Jika membeludak, di IGD Psikiatri ini ada ruang relaksasi yang bisa menampung sementara pasien-pasien yang depresi," paparnya.
Guntur menjelaskan, tim rehabilitasi tersebut akan melayani pasien mulai dari peserta kartu keluarga miskin (gakin) DKI Jakarta sampai pasien dari luar Jakarta seperti Bekasi. "Khusus pasien luar Jakarta, kami tetap akan melayaninya sepanjang ada yang akan bertanggung jawab terhadap administrasinya," ujar Guntur.