
Sebuah lukisan tiga dimensi bergambar burung dan ranting pohon, berukuran 2 x 1,2 meter persegi, tergantung di dinding di sanggar seni milik Wibowo Tri Ambodo (36), warga Desa Bogares Lor, Kecamatan Pangkah, Kabupaten Tegal. Di sampingnya, tergeletak beberapa lukisan bunga berukuran lebih kecil.
Lukisan tiga dimensi bergambar burung atau bunga tersebut adalah karya seni Bowo, panggilan Wibowo Tri Ambodo. Dia menghasilkan karya seperti itu sejak 2003. Sekilas dari warna dan tekstur lukisan, orang yang melihat akan mengira lukisan tersebut berbahan baku batu atau semen.
Namun, dugaan itu buyar tatkala orang yang melihatnya menyentuh dan mengangkat lukisan. Lukisan itu ringan dan lunak karena terbuat dari olahan limbah styrofoam atau gabus bekas.
Barang bekas buangan diolah dengan permainan seni ukir dan seni lukis hingga menjadi karya seni yang enak dipandang dan memiliki nilai jual. Bahkan, Bowo juga membuat desain akuarium dari styrofoam.
Bowo menghasilkan karya tersebut dari coba-coba. Lulusan Fakultas Pertanian, Jurusan Arsitektur Pertamanan Universitas Muhammadiyah Jakarta itu diminta teman-temannya membuat dekorasi acara seminar pertanian nasional, awal 2003.
"Saya sudah lulus, tetapi masih tinggal di Jakarta," ujar Bowo. Dia memanfaatkan styrofoam untuk dekorasi. Ternyata setelah selesai, limbahnya lumayan banyak. Jadilah dia memanfaatkan limbah itu untuk membuat lukisan tiga dimensi.
Dia mengukir styrofoam sesuai motif yang sudah digambar sebelumnya sehingga membentuk lukisan tiga dimensi. Kemudian, dia mengecatnya dengan cat tembok dan cat minyak.
"Cat tembok warna hitam untuk dasar, setelah itu cat minyak berwarna," kata Bowo.
Di luar dugaan, karya tersebut disukai para tamu dan pembicara seminar sehingga menjadi salah satu cendera mata. Dari 10 karya awal tersebut, satu di antaranya tersimpan di sanggarnya hingga kini. Lukisan itu bergambar bunga anggrek kantong semar.
Akhir 2003, Bowo kembali ke Tegal dan menjadi kontributor untuk salah satu televisi swasta. Dia terus bergelut dengan limbah styrofoam. Empat anak muda membantu Bowo. Mereka mengolah gipsum untuk bingkai karya seni Bowo.
Dia memasarkan produknya ke Tegal dan Jakarta, dibantu sang istri, Endang Jumiati (30), dokter gigi di Jakarta. Harga lukisannya bervariasi, Rp 500.000-Rp 3 juta, bergantung ukurannya. (Wie)