
MAGETAN, KOMPAS.com — Seorang balita, Arina Suryani Mukharomah (2 bulan), dilaporkan meninggal seminggu pascaimunisasi di Puskesmas Sukomoro, Kabupaten Magetan, Jawa Timur. Atas kematian itu, Giono dan Sri Mariana, kedua orangtua korban, mempertanyakan kemungkinan adanya kesalahan dalam imunisasi itu.
Menurut Giono, Selasa (24/3), anak ketiganya itu diimunisasi Senin (16/3). Paha kirinya disuntik. Kemudian pada Rabu (18/3), Giono dan Sri melihat bekas suntikan itu membengkak. Selain itu, Arina pun terus menangis.
Giono dan Sri lalu membawa Arina ke bidan di Desa Kedungguwo, Kecamatan Sukomoro, Magetan. Bidan kemudian memberikan obat sirup kepada Arina.
Setelah diberi obat, kondisi Arina tidak kunjung membaik. Sampai akhirnya pada Sabtu (21/3), sekitar pukul 19.00, Arina yang kondisinya kejang-kejang dibawa ke RSUD Dr Sayidiman, Magetan.
Di sana, perawatan yang diberikan kepada Arina dinilai oleh Giono lambat dan asal-asalan. Karena kecewa dengan pelayanan yang diberikan, hanya sekitar enam jam Arina dibawa ke RSU Dr Sudono, Madiun.
Tiga hari dirawat, kondisi Arina tetap tidak membaik, sampai akhirnya meninggal sekitar pukul 03.30, Selasa (24/3). "Kata dokter, Hb (hemoglobin) anak saya jauh di bawah normal," kata Giono.
Giono curiga memburuknya kesehatan Arina disebabkan imunisasi yang diberikan pekan lalu. Pasalnya, sebelum imunisasi, kesehatan Arina tidak pernah bermasalah.
Atas pertanyaan keluarga Arina itu, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Magetan Harry Susanto membantah jika dikatakan Arina meninggal karena imunisasi yang diberikan pada Arina. Menurut dia, Arina meninggal karena penyakit anemia yang dideritanya.
"Anemia bisa muncul karena bayi kurang asupan gizi, terutama zat besi. Zat besi ini bisa diperoleh dari ASI (air susu ibu). Minimnya zat besi pada ASI karena ibunya kurang makan sayuran," tambahnya.