Selasa, 22 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
KOMPAS
Mesin Pembaca Pikiran, Harapan bagi Si Pikun
Sabtu, 14 Maret 2009 | 16:14 WIB
The Sun

LONDON, KOMPAS.com — Untuk pertama kalinya dalam sejarah, para ilmuwan mampu menunjukkan bahwa pikiran manusia dapat "dibaca" hanya dengan memerhatikan aktivitas otak.

Dengan menggunakan pemindai canggih yang mengukur peredaran darah, melalui lingkungan realitas maya berbasis komputer, para ilmuwan Inggris mampu menyebutkan di mana para relawan berada.

"Yang mengejutkan, hanya dengan melihat data pada otak, kita bisa memperkirakan dengan tepat di mana mereka (responden) berada. Dalam kata lain, kami bisa 'membaca' ingatan spasial (berkenaan dengan ruang) mereka," kata Eleanor Maguire dari Wellcome Trust Center for Neuroimaging, University College London, kepada para wartawan.

Penemuan ini membuka kemungkinan bagi pengembangan mesin pembaca ingatan, meskipun Maguire menilai risiko kekacauan pembacaan pikiran masih bisa terjadi.

Kendati begitu, dia yakin penemuan yang dilaporkan dalam jurnal Cell Biology ini akan membantu pengembangan riset gangguan ingatan, seperti pada Alzheimer dengan penyinaran cahaya untuk mengetahui bagaimana daerah otak besar menyimpan memori.

Maguire dan koleganya menggunakan satu teknologi yang dikenal sebagai "pencitraan resonansi magnetik fungsional" atau fMRI yang menyoroti daerah otak saat daerah-daerah ini aktif.

Dengan memindai otak manusia, seperti memainkan game realitas maya dalam komputer, para ilmuwan mampu mengukur aktivitas neuron (sel syaraf) tertentu dalam otak besar (hippocampus), satu daerah otak yang disebut penting sekali bagi navigasi dan memori.

Penelitian ini meratakan jalan bagi analisis tentang bagaimana pikiran-pikiran lain, termasuk memori yang lebih lengkap mengenai masa lalu atau visualisasi masa depan, didata dalam sel syaraf.

Itu bermakna bahwa penggunaan fMRI untuk pemeriksaan forensik keseluruhan memori dan pikiran membuka kemungkinan timbulnya masalah etika.

Untuk sementaram, teknologi ini hanya bekerja pada relawan yang berkehendak dan peneliti Demis Hassabis menilai teknologi ini masih membutuhkan waktu setidaknya 10 tahun sebelum hal itu memungkinkan untuk diaplikasikan.

"Membutuhkan masa yang lama sebelum teknologi seperti itu menjadi mungkin diterapkan bahwa Anda bisa membaca pikiran seseorang dalam satu masa singkat manakala pikiran-pikiran itu tidak kooperatif," katanya.

Ant
Sumber :
Loading...
Sent from Indosat BlackBerry powered by
    Font: A A A
  Kirim Komentar Anda
  • Loading data..
 
Kirim Komentar Anda
Silakan login untuk kirim komentar Anda.
Komentar
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
Dapatkan Informasi Kesehatan Disini!