Selasa, 22 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
KOMPAS
Menelusuri Jejak Aborsi dari Cikini Hingga ke Johar Baru... (3)
Rabu, 4 Maret 2009 | 08:40 WIB
DHONI SETIAWAN
Tim Forensik dari Rumah Sakit Polri Pusat Sukanto tengah mencari saluran septic tank di tempat praktek aborsi milik Atun, Jalan Percetakan Negara II, Jakarta Pusat, Jumat (27/2). Aparat juga membongkar kamar mandi serta memeriksa beberapa ruang perawatan pasien.
TERKAIT:

Oleh: Inggried Dwi Wedhaswary

Praktik aborsi terselubung mungkin sudah berlangsung sangat lama. Uun saja mengaku sejak tahun 1987 sudah menjadi perantara pasien, terutama yang akan melakukan aborsi untuk melakukan eksekusi di salah satu dokter kandungan. Sayangnya, saat pertanyaan kembali diajukan, Uun mulai curiga. "Kok tanya terus? Sebenarnya mau apa enggak," tanya dia dengan nada tinggi.

Akhirnya, Kompas.com pun mengikuti permintaan Uun untuk langsung menuju ke klinik dr Abdullah di kawasan Johar Baru. Bagi yang tak mengenal daerah tersebut, memang tak mudah menemukan tempatnya. Bertanya kepada pedagang di sekitar Pasar Johar, beberapa di antaranya memberi jawaban diikuti senyuman. Seolah tahu apa yang akan dilakukan.

Kompleks Maisonet, begitu namanya. Kompleks rumah yang rata-rata berbentuk ruko itu hanya terdiri atas sekitar 20 rumah. Tak mudah pula mencari nama klinik dr Abdullah. Saat Kompas.com mendatanginya, belum ada nama klinik seperti yang terpasang saat dilihat pascapenggerebekan.

Setelah mondar-mandir dua kali, keluarlah seorang pria berperawakan besar. "Mau ke klinik, Mbak?" tanyanya. "Iya, Bang," jawab Kompas.com.

Ternyata, Uun sudah menghubungi pria tersebut. Sebab, dia langsung tahu bahwa Kompas.com datang atas rekomendasi Uun. Ia kemudian meminta Kompas.com untuk meminggirkan motor. Ia pun mengajak untuk berbincang agak privat.

Pertanyaannya sama, berapa bulan usia kandungan. "Ayo ke dalam saya antar," katanya.

Saat dikatakan bahwa yang akan melakukan aborsi tak ikut serta, pria itu tetap berusaha mengajak untuk mendaftar. "Bang, saya tanya orangnya dulu kapan siap. Kalo saya daftarkan sekarang, ke sininya baru kapan-kapan kan percuma," kilah Kompas.com.

"Jangan lama-lama. Kalo tambah besar tambah susah, tambah mahal," jawab pria itu.

Pria itu menyarankan, jangan sampai usia kandungan di atas lima bulan. Menurutnya sudah lebih tinggi risikonya. Setelah diberi penjelasan, ia pun tak memaksa untuk mendaftar. Ia hanya mengingatkan agar buku periksa yang tertera nama Uun didalamnya tak hilang dan dibawa saat mendaftar.

Itulah gambaran bagaimana kerja praktik aborsi klinik yang saat ini telah dibongkar pihak kepolisian. Sembilan tersangka telah ditetapkan, dua di antaranya adalah Dokter Agung Wahyudi dan Atun yang disebut-sebut sebagai pemilik klinik dr Abdullah di B 20 dan dua tempat lainnya, tak jauh dari klinik itu, yang terletak di Blok A 10 dan A 12.

Kerja jaringan ini diakui pihak kepolisian sangat profesional. Selain menempatkan para calo, mereka juga menempatkan orang sebagai tukang ojek, pemanggil taksi, bahkan pemantau aktivitas anggota kepolisian. Semuanya demi mengamankan bisnis yang mereka lakukan.

Lalu, siapakah dokter Abdullah? Pihak kepolisian, dalam hal ini Kapolsek Johar Baru Kompol Theresia, Sabtu lalu, mengatakan, dokter itu ada. Namun, masih perlu keterangan para tersangka lebih jauh untuk mengetahui keterkaitannya dengan praktik haram itu.

Selesai

Penulis: ING   |   Loading...
Sent from Indosat BlackBerry powered by
    Font: A A A
  Kirim Komentar Anda
  • Loading data..
 
Kirim Komentar Anda
Silakan login untuk kirim komentar Anda.
Komentar
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
Dapatkan Informasi Kesehatan Disini!