Oleh Inggried Dwi Wedhaswary
Pertanyaan awal yang diajukan Uun adalah berapa usia kandungan yang akan diaborsi. Semakin besar usia kandungan, semakin mahal biayanya. Layaknya seorang penjual, Uun lihai meyakinkan bahwa dokter yang akan mengeksekusi cukup berpengalaman. Bahkan, ia menawarkan beberapa variasi harga. Sang klien bisa memilih, mau yang sakit, setengah sakit, atau tidak sakit sama sekali.
"Yang standar aja Pak, paling murah. Tapi dijamin selamat kan?" tanya Kompas.com. "Yakin. Dokternya dokter senior. Kalo di rumah sakit atau klinik susah Mbak. Dokter ini udah terkenal kok," jawabnya.
Cukup mengagetkan. Setelah itu, Uun mengeluarkan sebuah buku kecil berwarna hijau. Di sampul depan tertulis "Praktik dr Abdullah". "Biayanya berapa?" Kompas.com kembali bertanya.
Saat disebutkan usia kandungan tiga bulan, Uun menyebut angka Rp 3 juta. Sejurus kemudian, ia menurunkan harga hingga Rp 2,5 juta. Buku periksa pun ia serahkan kepada Kompas.com sambil menunjukkan arah menuju klinik sang dokter. "Sekarang langsung ke sana aja ya, Mbak," ujar Uun.
"Tapi, bukan saya yang mau aborsi. Ada teman Pak, dia baru bisa akhir pekan," jawab Kompas.com mencoba berdalih. Ia tak patah semangat. "Udah, yang penting ke sana aja. Daftar dulu. Nanti kalo negonya pas akhir pekan, harganya bisa beda lagi," kata dia.
Akhirnya, Kompas.com mengiyakan untuk menuju ke klinik dr Abdullah yang terletak di Jalan Percetakan Negara II No B 20, Johar Baru, Jakarta Pusat. "Benar ya sekarang. Ini nomor handphone saya," katanya sambil menyebutkan sederatan angka.
Sebelum berlalu, Kompas.com sempat bertanya dari mana Uun mendapatkan buku periksa itu. Jawabannya cukup mengagetkan. Uun mengatakan, klinik itu memang menyebar banyak buku periksa kepada "orang-orangnya". Bahkan, masih menurut Uun, calon pasien yang akan periksa di klinik diminta untuk dibujuk agar datang ke praktik pribadinya.
Para calo seperti Uun akan mendapatkan honor. Maka, Uun tak lupa menuliskan namanya di bagian dalam buku periksa itu. Tujuannya agar saat mendaftar tercatat di klinik dari siapa pasien mendapatkan rekomendasi.
(Bersambung)