
WASHINGTON, SELASA - Presiden Barack Obama memadukan dengan baik harapan dan kenyataan untuk menggugah optimisme warga Amerika Serikat soal kebangkitan. Ini seiring dengan keadaan negara yang sedang terperosok ke dalam krisis ekonomi yang dalam.
Dalam pidato perdananya di Kongres, Washington, Selasa (24/2), Obama sangat berhati-hati memberikan penilaian dan mencoba bijaksana terhadap situasi ekonomi dan cara mengatasi keadaan.
Kegembiraan memenuhi ruang sidang. Obama memasuki ruangan sambil menebar senyum, tidak lupa berjabatan tangan dan mencium para anggota Kongres serta mantan pesaingnya, Menlu Hillary Rodham Clinton.
Diperlukan waktu 15 menit untuk membebaskan Obama dari kepungan para anggota yang sangat ingin bersalaman dan menyambut presiden kulit hitam pertama AS di Capitol Hill, yang dibangun oleh para budak kulit hitam. Pidato Obama berlangsung selama 52 menit.
”Ketika perekonomian kita melemah dan mengguncangkan kepercayaan, dan saat kita hidup dalam kesulitan serta menghadapi ketidakpastian, malam ini saya ingin agar semua warga AS mengetahui: kita akan dapat membangun kembali, kita akan pulih,” tutur Obama. ”Dan AS akan tampil lebih kuat dari sebelumnya,” ujarnya disambut dengan tepukan tangan yang membahana di ruang besar itu.
Pidato Obama diselingi tepukan tangan lebih dari 60 kali di hadapan Kongres yang mayoritas dipenuhi anggota Demokrat. Dukungan publik terhadapnya pun tetap kuat meski Wall Street tetap skeptis atas upaya Presiden Obama menangani ekonomi.
Kekhawatiran investor sempat membuat indeks di bursa AS turun hingga titik terendah dalam 12 tahun terakhir pada Senin lalu, tetapi kemudian bangkit lagi Selasa lalu setelah Gubernur Bank Sentral AS Ben Bernanke menjamin perbankan yang berada dalam masalah akan dapat melalui masa sulit tanpa nasionalisasi.
Perbankan dan otomotif
Obama mengatakan akan lebih banyak lagi dana yang diperlukan untuk memperbaiki perbankan dan perekonomian secara keseluruhan. Dia memperingatkan bahwa biaya yang dikeluarkan untuk pemulihan akan besar. Namun, dia menjamin biaya yang dikeluarkan akan jauh lebih besar lagi jika penyelamatan perbankan tidak dilakukan.
Hal ini dia katakan untuk menepis kritikan bahwa dana negara sudah dihamburkan untuk menolong perbankan yang telah menggali lubang kematian sendiri.
Presiden Obama tampaknya menarik garis keras terhadap industri otomotif AS yang juga bermasalah. Obama mengatakan akan mendukung industri itu jika dapat membuat produsen otomotif AS lebih kompetitif. Namun, dikatakan, pemerintah tidak dapat melindungi mereka dari keputusan yang salah.
Obama tampaknya akan mengubah janji menjadi kenyataan mengenai fiskal. Walaupun Washington telah mengucurkan banyak uang dalam rangka pemulihan ekonomi, Obama mengatakan defisit anggaran yang mencapai 1,3 triliun dollar AS dan akan terus membengkak harus dikelola dengan baik.
Dia berjanji akan memangkas defisit menjadi hanya separuh dari sekarang pada akhir masa jabatan tahun 2013. Hal itu akan dilakukan dengan mengakhiri perang di Irak dan menghapuskan fasilitas keringanan pajak yang diberikan mantan Presiden George W Bush kepada kelompok kaya.
Tekad tersebut mungkin akan sangat sulit, demikian kritikan dari para pengamat. Akan tetapi, beberapa analis senang dengan pidato Obama. ”Jelas Obama berupaya untuk menepis kekhawatiran akan terjadi ledakan anggaran,” ujar Amy Auster, Kepala Riset ANZ Bank di Melbourne, Australia.
Positif
Anggota legislatif, baik dari kubu Demokrat maupun dari Republik, secara umum menanggapi pidato Obama secara positif. Senator Republik John McCain yang merupakan lawan Obama dalam pemilihan presiden mengatakan pidato Obama sangat bagus.
”Saya rasa dia dapat secara berhati-hati menyeimbangkan antara kesulitan dan tantangan yang dihadapi rakyat AS. Pada saat yang sama, dia juga memberi jaminan kepada rakyat dan kepercayaan diri bahwa kita akan dapat bangkit,” ujar McCain kepada CNN. Akan tetapi, mengenai anggaran McCain mengatakan tidak yakin mereka akan dapat menghemat uang karena telah mengeluarkan banyak untuk Afganistan.
Presiden Obama mewarisi persoalan ekonomi dari Bush. Warisan buruk itu antara lain berupa defisit anggaran yang membengkak, lumpuhnya sektor perbankan, industri, serta bengkaknya biaya invasi Irak selama rezim Bush, yang berasal dari Republik. Presiden Obama mengatakan tidak mau menyalahkan siapa pun walau warisan persoalan yang dia hadapi cukup besar. Meskipun demikian, kubu Republik sejauh ini relatif sulit diajak berkompromi. (AP/AFP/joe)