Selasa, 22 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
KOMPAS
Kanker Anak Tak Bisa Dicegah
Sabtu, 21 Februari 2009 | 22:18 WIB
Maya Saputri
Perawati (kiri) terlihat sedang menyuapi anak pertamanya, Arya Fatahillah (7), yang sedang menjalani perawatan radioterapi untuk mematikan sel kanker pada batang otaknya di bangsal anak ruang Bambi, RS Kanker Dharmais, Jakarta, Selasa (5/8).
TERKAIT:

JAKARTA, SABTU - Tidak ada yang dapat mencegah penyakit, terlebih kanker pada anak. Seorang anak dapat terkena kanker karena gen. Yang lain lagi bisa jadi dipicu oleh makanan yang dikonsumsinya.  

"Pemicunya lainnya adalah faktor lingkungan dan makanan anak-anak yang tidak sehat. Bisa juga karena radiasi atau infeksi virus. Atau perpaduan antara faktor genetika, lingkungan, radiasi, dan infeksi," terang Pinta Manullang Panggabean Ketua Yayasan Kasih Anak Kanker.  

Yang jelas, penyimpangan pertumbuhan sel akibat cacat genetika dalam kandungan menjadi alasan utama.

Sayang, banyak orang tua yang belum mengetahui dari awal bahwa anak mereka terkena kanker. Setelah kondisi memburuk baru orang tua membawa anak mereka ke Rumah Sakit.  

Seperti yang diceritakan Yuli (37), ia sama sekali tidak menyangka kalau anak semata wayangnya Nurul (7) mengidap leukemia. "Awalnya dia demam tinggi, di badannya muncul biru-biru seperti orang habis dipukuli. Lalu saya bawa ke Puskesmas saja," papar Yuli.

Selama enam bulan Nurul mengalami gejala seperti itu, berkali-kali ia dibawa ke Puskesmas namun tidak juga membuahkan hasil. "Akhirnya saya bawa Nurul ke dokter spesialis anak, lalu dirujuk ke RSCM," papar Yuli. Setelah melakukan pemeriksaan laboratorium, Nurul divonis LLAC I atau Leukemia dengan risiko biasa.  

Hal yang sama dialami Ine Siti Ratnasari (26). Ia sama sekali tidak menyangka saat umur 3 tahun terkena Retinoblastoma.

"Mulannya mata sebelah kiri saya terasa terang, tidak berasa sakit sama sekali. Ada codetnya seperti mata kucing, mata saya juga jadi juling," papar Ine. Ternyata itu adalah kanker mata.

Untung mata Ine segera dioperasi dan diambil bola matanya meski wajah cantiknya harus dihiasi perban untuk menutupi mata. Bahkan Ine pun sempat menggunakan mata palsu meski kemudian harus menutup matanya lagi karena pertumbuhannya tidak sempurna. Tapi yang jelas, tindakan untuk segera mengobati mata ini merupakan langkah tepat. Ine tetap sehat dan selamat dari kematian.

Memang kalau terlambat menangani kesempatan hidup lebih kecil, kata Pinta."Tapi kita jangan putus asa, terus berusaha. Jika terbentur masalah biaya, saat ini banyak program untuk keluarga yang tidak mampu seperti program (keluarga miskin) GAKIN," ujar Pinta

     

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Penulis: C5-09   |   Loading...
Sent from Indosat BlackBerry powered by
    Font: A A A
  Kirim Komentar Anda
  • Loading data..
 
Kirim Komentar Anda
Silakan login untuk kirim komentar Anda.
Komentar
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
Dapatkan Informasi Kesehatan Disini!