Sabtu, 11 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
KOMPAS
Ali Topan Wartawan Jalanan (32)
Sabtu, 21 Februari 2009 | 01:46 WIB
ilustrasi/Jan Mintaraga

“Sudah, Dik... berdoa saja untuk Mama... biar kami menjaga di sini," dokter bicara halus. Perawat memegang lengannya, membawanya keluar. "Di luar saja ya, Dik. Mama belum boleh diganggu, nanti infeksi," kata Perawat itu sambil memperhatikan pakaian kumel dan wajah dekil Ali Topan.
“Terimakasiiih, Suster,.... ," bisik Ali Topan, "tolong jaga mama sayaa," sambungnya dengan suara lemas. Sang Perawat yang baik hati itu mengangguk dan tersenyum ramah. Ali Topan ke luar dengan airmata berlinang-linang.

Harry memeluk Ali Topan dengan penuh simpati. Sejak tadi ia bengong saja melihat sikap Pak Amir yang acuh tak acuh.
"Kita ke sana dulu, ayo," kata Harry. Dagunya ke arah lapangan golf yang terletak beberapa meter di sebelah timur paviliun. Pak Amir melengos ketika ali topan dan Harry lewat di depannya.

Mereka duduk di rerumputan di bawah pohon trembesi besar dekat lapangan golf. Pohon-pohon trembesi dan flamboyan yang teduh dan padang rumput golf yang terhampar luas di depan mereka agak menyegarkan pikiran keduanya. Harry menyalakan sebatang rokok untuk Ali Topan. Terharu sekali Ali Topan atas simpati yang ditunjukkan oleh Harry.

Ali Topan mengenal temannya yang satu ini sebagai anak yang pendiam, tak suka banyak omong dan bercanda. Dulu ia merasa kurang pas, menganggap Harry kurang akrab, anak pasif dan misterius. Dibanding Bobby, Gevaert, dan Dudung yang ceria dan terbuka, Harry memang jauh berbeda.

Tapi kali ini Ali Topan sadar betapa ia telah keliru menilai seorang kawan. Tanpa banyak omong, Harry telah menunjukkan simpati yang sangat dalam. Sikap dan ucapannya terasa menghibur, menguatkan dirinya. Ali Topan tersentuh dan merasa malu sendiri mengingat sikapnya yang terkadang kasar dan tak bersahabat selama ini.
"Har," bisik Ali Topan, "lu baek hati bener sih. Kenapa Har?" sambungnya.
Ekspresi Harry tak berubah menatapnya. Kebego-begoan, seakan-akan tak mendengar bisiknya.
"Har, kenapa lu bersikap baek sama gue," Ali Topan mengulangi ucapannya.
"Ah, lu kan juga baek," sahutnya kalem dalam aksen Jawa yang medok.
"Ah! Kapan gue baek sama lu?" ucap ali Topan spontan. Harry menyeringai kecil.
"Pokoknya gue tau kalo lu anak baek."
"Lu mau jadi kawan gue, Har?" kata Ali Topan dengan sangat lembut.
“Dari dulu kan gue emang temen lu. Heh heh heh," sambil ketawa geli. Dua codet di wajahnya membuat wajahnya tampak aneh dan lucu ketika ia ketawa.
Ketawa Harry terhenti ketika mereka melihat Pak Amir ke mobilnya.
“Tuh babe lu pulang, Pan," bisik Harry.
“Biarin,” sahut Topan dengan nada kesal.

Pak Amir bergerak dari tempat parkir dan berjalan lambat. Sopirnya menghentikan mobil di dekat Ali Topan. Pak Amir melongok keluar.
"Tuan Ali Topan! Ik sudah baca surat jej!" kata Tuan amir bernada kering dan tandas. Ali Topan menengok. Pandangan matanya redup menatap sepasang mata yang bersorot angkuh. "Konci motornya juga lk terima, tapi kamu lupa belum mengasihkan STNK-nya. Awas jangan kamu gadaikan surat itu, anak buajingan!" ucap Pak Amir. Sambil meludah ke arah Ali topan "Cuiih!"
“Saddiss!" Gumam Harry spontan. la sampai bengong terlongong-longong mendengar ucapan dahsyat itu. Dipandangnya adegan ganjil antara ayah dan anak. Sepasang mata Ali Topan berkilau sesaat. Ia pun kaget.

Loading...
Sent from Indosat BlackBerry powered by
    Font: A A A
  Kirim Komentar Anda
  • Loading data..
 
Kirim Komentar Anda
Silakan login untuk kirim komentar Anda.
Komentar
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
Dapatkan Informasi Kesehatan Disini!