MADIUN, RABU - Intensitas hujan yang rendah pada musim tanam pertama tahun 2008/2009 membuat 5.000 hektar sawah tadah hujan di lima kecamatan di Kabupaten Madiun kekurangan air. Imbasnya, produksi padi tidak bisa maksimal.
Ketua Kontak Tani dan Nelayan Andalan Kabupaten Madiun Suharno, Rabu (18/2), menyebutkan kelima kecamatan itu adalah Dagangan, Dolopo, Pilangkenceng, Saradan, dan Mejayan.
Hal ini tidak pernah terjadi pada tahun-tahun sebelumnya karena masa tanam pertama adalah puncak musim hujan sehingga seharusnya masih banyak air. "Kalau sekarang saja sudah kekurangan air bisa-bisa nanti pada masa tanam kedua dan ketiga banyak yang gagal panen karena tidak ada air," kata Suharno.
"Selain masalah air, rendahnya curah hujan membuat hama berkembang biak dan banyak menyerang tanaman padi. Intensitas hujan yang rendah membuat hama wereng dan tikus banyak menyerang padi," tambahnya.
Berdasarkan data Dinas Pertanian Kabupaten Madiun, hama tikus sudah menyerang 193,85 hektar sawah di delapan kecamatan sedangkan hama wereng coklat menyerang 78,11 hektar tanaman padi di sepuluh kecamatan.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Madiun, Budi Cahyono membenarkan terjadinya anomali cuaca seperti yang dikeluhkan oleh petani. Oleh karena itu, menjelang masa tanam kedua atau MK (musim kemarau) 1 dan masa tanam ketiga atau MK 2, Dinas Pertanian mengingatkan petani yang berada di daerah rawan kekeringan.
"Petugas kami akan memberi penyuluhan ke petani di daerah rawan kekeringan agar mereka tidak memaksakan menanam padi pada MK 1 dan 2. Mereka akan dianjurkan menanam palawija yang tidak butuh banyak air," jelasnya.