
JOMBANG — Bupati Jombang Suyatno bertemu Kepala Kepolisian Resor Jombang Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Muhammat Khosim terkait fenomena dukun cilik, Muhammad Ponari, yang sempat menggegerkan wilayah kerjanya.
“Pertemuan ini kami lakukan untuk membahas langkah apa yang harus dilakukan terkait fenomena dukun cilik, Muhammad Ponari (9),” kata Suyatno di Jombang, Selasa (10/2). Ia mengatakan, langkah nyata yang saat ini bisa dilakukan oleh pihak Pemkab Jombang, yaitu membantu pengamanan pihak kepolisian.
“Salah satunya mengerahkan anggota pertahanan sipil,” katanya. Meski demikian, pihaknya belum bisa memutuskan untuk menutup praktik pengobatan milik Ponari di Desa Kedungsari, Desa Balongsari, Kecamatan Megaluh.
“Keputusan itu akan dikembalikan kepada keluarga, apakah akan tetap melanjutkan pengobatan oleh Ponari atau tidak,” kata Muhammat Khosim.
Ia mengimbau, praktik pengobatan Ponari ditutup sementara sampai situasi kondusif. Kepolisian tidak bisa melarang keluarga untuk menghentikan kegiatan itu karena menyangkut hak masyarakat.
“Yang dilakukan polisi saat ini memberikan perlindungan kepada keluarga Ponari. Hari ini keluarganya merasa ingin dilindungi sehingga untuk sementara waktu, Ponari masih kami ungsikan ke suatu tempat terlebih dahulu,” katanya.
Namun, dia berjanji bila pengobatan kembali dibuka, Pemkab Jimbang membantu mendirikan pos kesehatan di sekitar lokasi pengobatan untuk memberikan pertolongan kepada warga jika dibutuhkan.
Sebelumnya, Ponari yang masih duduk di kelas III SD mendapatkan kemampuan alternatifnya saat ia bermain hujan. Saat itu muncul petir dan sebuah batu menjatuhi kepala Ponari. Batu itu lantas dibawanya pulang.
Ponari kemudian mencoba keajaiban batu itu kepada bocah tetangganya yang sedang sakit. Anak itu langsung sembuh. Sejak saat itulah Ponari mulai dikenal sebagai dukun cilik. Kabar kesaktian Ponari itu tersiar luas hingga mengundang banyak orang dari berbagai daerah untuk berobat. Gara-gara ribuan orang yang datang itulah hingga kini tercatat empat pasiennya tewas, sebagian karena berdesak-desakan.