Jumat, 1 Agustus 2014
Selamat Datang   |      |  
KOMPAS
Selingkuh: Perlukah Dimaafkan?
Selasa, 3 Februari 2009 | 14:56 WIB
MEDIOIMAGES/PHOTODISC/GETTY IMAGES

 

Selingkuh barangkali salah satu penyebab masalah dalam perkawinan yang paling menyakitkan. Ketika akhirnya bersatu kembali dengan pasangan, pihak yang diduakan umumnya sulit melupakan bayangan tentang perselingkuhan tersebut. Siapa perempuan yang telah memikat hati suami, bagaimana penampilannya, dan bagaimana suami memperlakukan perempuan tersebut, inilah yang akan terus menghantui pikiran sang istri. Apalagi jika selama ini suami selalu menunjukkan perasaan sayangnya kepada istri, dan selalu memperhatikan anak-anak. Lebih parah lagi, suami terkesan pendiam dan tidak neko-neko. Pertanyaan mendasarnya, mengapa pria berselingkuh?

Alasan seseorang berselingkuh bisa berbagai macam. Namun karena masyarakat cenderung membolehkan, atau menganggap biasa pria berselingkuh, akhirnya hal ini dijadikan pembenaran oleh kaum pria.

Selingkuh juga bukan hanya "milik" kaum pria, meskipun ada pendapat yang mengatakan bahwa pria pada dasarnya memiliki kecenderungan untuk berselingkuh. Baik perempuan atau laki-laki mempunyai dorongan untuk berselingkuh, meskipun alasannya bisa jadi berbeda. "Keduanya bisa jadi selingkuh bila ada kekecewaan, atau hal-hal yang diharapkannya tidak terpenuhi dari pasangan. Misalnya perempuan yang tertekan dalam hubungan dengan suami, atau memiliki suami yang sangat penuntut tetapi kurang memberikan perhatian, juga bisa saja tertarik pada pria lain yang menurutnya dapat memberinya perhatian," jelas Kristi Poerwandari, pengajar di Fakultas Psikologi UI.

Meskipun demikian, "Saya rasa pada akhirnya selingkuh terjadi karena situasi dalam diri orang itu. Meski ada rayuan kalau si individu tidak menanggapi, ya tidak terjadi perselingkuhan," lanjutnya.

Karena penyebab perselingkuhan itu bermacam-macam, maka pria "baik-baik" pun juga bisa selingkuh. "Mungkin ini sedikit menjelaskan 'kekhasan' pria ya, entah ia merasa tidak ada hal baru yang memunculkan hasrat-hasrat baru dalam relasinya yang tenang, yang baik-baik dan harmonis? Tetapi saya rasa perempuan juga ada yang demikian, apalagi dalam era di mana dunia kerja demikian terbuka dan membuat kita selalu bertemu dengan orang-orang baru yang menarik. Intinya kecenderungan berselingkuh itu ada pada manusia, jadi masing-masing perlu menjaga sikap dirinya dan terus berkomunikasi dengan pasangannya untuk memperbarui hubungan," kata Ketua Program Studi (S2) Kajian Wanita UI, yang juga pendiri dan pengurus Yayasan Pulih, yayasan untuk intervensi trauma dan penguatan psikososial ini.

Untuk mampu mengatasi ketertarikan pada pria atau wanita lain, tentu dibutuhkan niat atau kesungguhan dari dalam diri. Sebab jika kita menuruti perasaan untuk menjalin hubungan (emosional, bahkan fisik) dengan orang lain, akan ada sesuatu yang dikorbankan. Entah itu perasaan istri, anak-anak, orangtua, dan seterusnya. Belum lagi jika kehidupan pribadi suami diketahui oleh lingkungan pekerjaan, yang lalu mempengaruhi penilaian perusahaan terhadap prestasinya.

Masalahnya kemudian, jika pasangan kita berselingkuh, perlukan kita memaafkan dan menerimanya kembali?

Jawabannya bukan pada orang lain tapi pada si individu itu sendiri. Baik perempuan atau laki-laki yang mendapati pasangannya berselingkuh perlu merenung dan bersikap sejujur-jujurnya untuk lebih memahami situasi, lebih mengerti diri sendiri, dan juga lebih mengerti pasangan: apakah selingkuh sudah menjadi kebiasaan yang tidak bisa dihilangkan? Apakah ini suatu kekhilafan yang memang sungguh disesali pasangan? Apakah pasangan memiliki banyak sisi positif dibandingkan sisi negatifnya?

"Lha kalau si istri berniat banget menerima suami kembali, tetapi suaminya sama sekali tidak peduli dan tidak mau mengubah diri juga, untuk apa ya? Tetapi sebaliknya, bila memang suami sangat menyesali yang terjadi, dan dia punya banyak sisi baik, betapa sayangnya untuk meninggalkan hubungan itu kan?"

Bila kita memaksakan diri tetap dalam hubungan sementara pasangan sudah enggan, hubungan itu akan menjadi wadah yang sangat menyengsarakan kita. Jika kita berkeras kepala menolak sementara pasangan sebenarnya sangat menyesal dan mau berubah, kita sendiri sebenarnya juga tidak bahagia. Jadi kembali kita harus mampu bersikap sejujur-jujurnya untuk mengakui perasaan diri sendiri, dan mengakui sesungguhnya bagaimana sikap pasangan kepada kita.

Selain itu harus Anda sadari bahwa untuk dapat menjalani kembali hubungan seperti dulu memang butuh waktu. Hal ini hanya akan terjadi ketika Anda betul-betul telah memaafkan perbuatannya, dan terus berusaha memperbaiki diri sendiri. Ingatlah saja hal-hal baik pada dirinya, karena mengingat hal-hal yang buruk hanya akan membuat Anda terus-menerus sakit hati.

 

Penulis: din   |   Loading...
Sent from Indosat BlackBerry powered by
    Font: A A A
  Kirim Komentar Anda
  • Loading data..
 
Kirim Komentar Anda
Silakan login untuk kirim komentar Anda.
Komentar
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
Dapatkan Informasi Kesehatan Disini!