Selasa, 23 Desember 2014
Selamat Datang   |      |  
KOMPAS
PLTG Gresik Jadi Pilot Project Penggunaan Biosolar
Sabtu, 31 Januari 2009 | 13:24 WIB

GRESIK, SABTU — Pembangkit Listrik Tenaga Gas di Gresik menjadi pilot project penggunaan biosolar B5 sebagai bahan bakar pembangkit listrik mesin pembakaran luar atau external combustion engine. Direktur Utama PT Pembangkitan Jawa Bali Agus Pranoto mengatakan, dari hasil uji coba yang dilaksanakan sejak Desember 2008 hingga Januari menunjukkan biosolar B5 layak digunakan.

Hasil uji coba biofuel B5 menjadi acuan pengunaan biosolar untuk pembangkit bahan bakar minyak di lingkungan Perusahaan Listrik Negara dan anak perusahaannya. Biofuel B5 merupakan campuran dari 95 persen solar (HSD) dengan 5 persen fatty acid methyl esters (FAME). Ini merupakan produk transesterifikasi dari crude palm oil. "Selama uji coba telah diamati pengaruh pada mesin apakah ada perubahan dan apa bisa dilanjutkan apa tidak. Hasilnya, penggunaan biofuel layak dilanjutkan," katanya.

Menteri Negara Energi dan Sumber Daya Mineral Purnomo Yusgiantoro, Sabtu (31/1), meresmikan dan meluncurkan penggunaan biosolar untuk PLN di PT Pembangkitan Jawa Bali Unit Pembangkitan Gresik. Keberhasilan uji coba biosolar di PLTG unit I Gresik dijadikan acuan penggunaan biosolar untuk pembangkit thermal di lingkungan PT PLN dan anak perusahannya.  

Penggantian BBM dengan biosolar merupakan salah satu usaha mengurangi dampak polusi yang ditimbulkan dari pembakaran bahan bakar fosil dan lebih ramah lingkungan karena emisi gas buang lebih bersih. "Biaya produksi juga tidak memberatkan para pemain di lapangan," kata Purnomo.

Purnomo menjelaskan, Indonesia merupakan negara produsen crude palm oil (CPO) terbesar di dunia bersaing dengan Malaysia. Langkah menggunakan biofuel merupakan upaya PT PLN mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar minyak, "Sementara harga per liter biofuel masih sama dengan solar, tetapi paling tidak upaya ini bisa mengurangi ketergantungan terhadap solar," ujarnya.

Dengan menggunakan biofuel, kata Purnomo, hal itu menghemat penggunaan solar yang sebagian masih impor. Adapun biofuel seluruhnya hasil produksi dalam negeri. Penggunaan biofuel bisa menekan subsidi BBM 2008 Rp 83 triliun dan tahun 2009 ditargetkan bisa menjadi Rp 45 triliun. Selama ini, pemerintah mengupayakan tambahan subsidi Rp 1.000 per liter.

Direktur Jenderal Migas Evita Legowo menambahkan, penggunaan biofuel merupakan diversifikasi energi untuk ketahanan energi. "Harus disadari, minyak makin lama makin habis sehingga ini merupakan salah satu langkah mengantisipasi krisis energi," kata Evita.

Direktur PT PLN Fahmi Mochtar mengatakan, kebutuhan BBM untuk pembangkit listrik mencapai 7,9 juta kiloliter per tahun. Adapun biofuel bisa memenuhi kebutuhan bahan bakar 0,25 persen dari total kebutuhan. Fahmi mengatakan, target pada 2011, penggunaan biofuel bisa dinaikkan menjadi 2 persen dari kebutuhan bahan bakar.

PT Pembangkitan Jawa Bali (PJB) Unit Pembangkit I Gresik merupakan salah satu unit PT PJB dengan kapasitas terpasang 2.250 megawatt. Unit Pembangkit Gresik memberikan kontribusi 12 persen pada sistem kelistrikan Jawa Bali atau 70 persen melayani konsumen Jawa Timur.

Dengan keluarnya Peraturan Menteri ESDM Nomor 32/2008 tentang Penyediaan Pemanfaatan dan Tata Niaga Bahan Bakar Nabati (biofuel) sebagai bahan bakar lain menyebabkan biofuel wajib digunakan secara bertahap untuk berbagai sektor, termasuk pembangkit listrik mulai 2009.

Beberapa pembangkit bermesin pembakaran dalam (internal combustion engine) tipe diesel atau PLTD PLN di Kalimantan dan Sumatera sudah mulai memakai biofuel sebagai bahan bakar. Pemakaian biofuel untuk mesin pembakaran luar terutama tipe gas turbin (PLTG) belum pernah dilakukan di Indonesia dan baru dimulai di PLTG Gresik.

Pemakaian biofuel menggantikan HSD (solar) memerlukan kajian khusus terkait dampak terhadap peralatan pembangkit. Uji coba dilakukan pada PLTG Gresik unit I PT PJB Unit Pembangkitan Gresik sebesar 20 megawatt.

Uji coba itu untuk mengetahui seberapa besar perubahan heat rate dan specific fuel consumption (SFC) dibandingkan bahan bakar solar murni. Berdasarkan hasil pengujian secara teknis, penggunaan biosolar B5 lancar dan tidak terjadi gangguan yang menyebabkan gas turbin menjadi trip. Uji SFC sebelum dan sesudah penggunaan B5 ada kecenderungan sedikit menjadi boros. Namun, heat rate menjadi lebih kecil (lebih baik).

 

 

Penulis: Adi Sucipto   |   Loading...
Sent from Indosat BlackBerry powered by
    Font: A A A
  Kirim Komentar Anda
  • Loading data..
 
Kirim Komentar Anda
Silakan login untuk kirim komentar Anda.
Komentar
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
Dapatkan Informasi Kesehatan Disini!