Selasa, 22 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
KOMPAS
Menjadi Asertif Perlu Berlatih
Rabu, 15 Oktober 2008 | 18:44 WIB
Getty Images/John Lund/Nevada Wier

SIANG itu Erman lemas sekali ketika keluar dari ruang Pak Ridwan, atasannya. Ia menghempaskan diri ke kursi kerjanya dan menopangkan kepala dengan kedua tangannya sambil menunduk ke meja. Sebentar-sebentar ia menggeleng kepalanya, sambil memukul-mukulkan kedua tangannya ke kepala.

Ketika Toto menghampiri untuk bertanya, ia hanya menjawab perlahan, “Saya  baru dimarahi Pak Ridwan.” Atasan mereka marah karena tim kerja yang dipimpin Erman terlambat sekali memasukkan laporan kerjanya.

Sebetulnya hal itu disebabkan oleh gangguan yang bersumber pada komputer perusahaan. Minggu terakhir ini, komputer perusahaan memang sering ngadat. Pak Ridwan pasti tahu soal ini, karena  semua orang di kantor mengeluhkannya. Erman sangat kecewa Pak Ridwan seperti tidak mau tahu dengan gangguan komputer.

Pak Ridwan jelas menyalahkan Erman. Tapi lebih dari itu, Erman juga kesal kepada dirinya yang tidak punya keberanian untuk menangkis tuduhan Pak Ridwan. Erman kercewa, karena tak berani memperjuangkan hak pribadinya.

“Harusnya aku tidak diam saja,” begitu gumamnya dalam hati. Dengan hanya berdiam diri, jangan-jangan Pak Ridwan semakin yakin bahwa memang dialah sumber keterlambatan itu.
Toto tidak dapat berbuat banyak kecuali menenangkan dengan mengatakan, “Jangan terlalu dimasukkan ke hati, bos kita itu ‘kan memang selalu begitu.” Erman mengangkat kepalanya perlahan lalu menatap Toto.

Katanya, “Mas Toto, tolong saya diajari berani dong. Saya kesal sama diri saya sendiri. Kok, saya tidak bisa melawan atau membela diri, padahal saya tidak salah. Saya merasa dirugikan oleh tuduhan itu. Apalagi belum sempat saya menjelaskan dia sudah seperti memojokkan saya.”

Sangat Kontras

Setelah itu Erman bayak bercerita kepada Toto bahwa yang dialaminya hari itu bukan satu-satunya kejadian dalam hidupnya. Ia sering tidak bisa membantah atau bereaksi seperti yang ia inginkan.

Ia bahkan sering kali tidak berani menolak sebuah permintaan yang sebetulnya tidak ingin ia kabulkan. Kalau ada orang yang minta tolong, ia sulit bilang ‘tidak’. Padahal sebetulnya ia tidak rela untuk menolong.

Toto langsung teringat pada teman dekatnya yang bernama  Uci. Ia mulai membandingkan Uci dengan Erman. Uci adalah teman main dalam klub sepakbola di kampusnya dulu, yang sampai sekarang masih sering bersama-sama di luar urusan kantor. Uci terkenal ‘sangar’ di antara teman satu klub.

Ia tergolong pemain yang baik sekali, tetapi tidak boleh tersinggung perasaannya. Begitu ada yang menyinggung, walupun dalam suasana canda, ia bisa sangat marah. Apalagi kalau ia ditegur atau dikasari, reaksinya bisa sangat agresif.

Terhadap sesama teman, bahkan dengan pelatih, ia tidak segan-segan untuk berseteru. Yang paling tidak tahan dari Uci adalah lontaran kata-katanya yang kasar. Ucapan dalam candanya pun kadang-kadang juga kasar.

Apalagi kalau ia betul-betul sedang marah. Pernah ia melampiaskan kekesalannya pada seorang pengendara mobil yang kebetulan memotong jalur mobil yang sedang mereka tumpangi, dengan menarik leher baju si pengemudi dan langsung menamparnya tanpa berbicara lebih dulu. Toto dan teman lain yang berada dalam mobil tidak dapat berbuat apa-apa karena bengong.

Seperti Erman yang kecewa pada diri sendiri, Uci pun sering menyesali perbuatannya. Sering ia bertanya, “Bagaimana ya, supaya saya bisa agak sabaran”
Di mata Toto, ada dua pribadi yang sangat kontras dalam upaya membela hak dan kepentingan dirinya. Yang satu tidak punya keberanian dan cenderung menyerah atau mengalah, sebaliknya yang lain terlihat berlebihan untuk memperoleh dan mempertahankan haknya.

Harusnya Asertif

Toto jadi menyadari bahwa kebanyakan orang yang dikenalnya dapat ia samakan sebagai Erman yang submisif, atau seperti Uci yang agresif. Sedikit sekali orang yang berada di antara kedua kutub itu. Padahal, orang yang berada di antara kedua kutup itulah yang sebetulnya lebih sehat secara psikologis.

Orang-orang yang berada diantara kedua kubu itu disebut sebagai orang-orang asertif, orang yang mampu membela hak pribadinya, tanpa menyerang hak pribadi orang lain. Orang yang mampu menolak permintaan tanpa rasa salah, selama hal yang diminta memang bukan kewajibannya dan kebetulan tidak ingin ia lakukan.

Tapi sebaliknya, orang yang asertif juga tidak akan menuntut orang lain di luar batas kewajiban orang itu.Mereka bisa menegur kesalahan orang lain, tanpa mencela pribadi orang itu.

Bukan Bawaan

Intinya, orang yang asertif adalah orang yang menyadari hak pribadi dan hak orang lain. Kesadaran ini bukan sifat yang dibawa lahir, melainkan keterampilan yang bisa dilatih.
Inti pelatihannya  adalah pembenahan asumsi-asumsi yang keliru. Peserta pelatihan diajak meninjau berbagai keyakinan yang dimilikinya tentang hak pribadinya dan konsekuensi dari caranya memperjuangkan hak.

Keengganan memperjuangkan hak sering berakhir dengan kemarahan yang terpendam dan penilaian yang rendah terhadap diri sendiri. Di lain pihak, bertindak kasar dalam menuntut hak sering mengakibatnya kemarahan pihak lain.

Sekadar menyakini hak pribadi maupun hak orang lain tidak langsung membuat orang jadi asertif. Keberhasilan bertindak asertif menuntut keterampilan untuk memilih respon yang tepat, baik ketika membela hak pribadi terhadap serangan orang lain, maupun ketika menuntut hak tanpa mengabaikan hak orang lain, atau tanpa melukai pihak lain.

Misalkan satu waktu Anda sedang antri karcis lalu ada orang yang mencoba menyerobot. Anda berhak menegur si penyerobot, tapi tidak berhak menghina.

Anda juga berhak menolak permintaan yang merepotkan, tapi tidak berhak menuduh pihak yang meminta bantuan tidak tahu diri. Barangkali dia memang tidak tahu bahwa Anda repot. Cukup katakan, “Maaf saya sedang sangat repot,” tak perlu marah-marah sambil teriak, “Enak saja minta tolong. Enggak tahu saya lagi repot? Pakai dong otaknya!”

Perlu disadari bahwa keterampilan bertindak asertif, seperti juga keterampilan bermain musik atau mengetik, tidak bisa diperoleh hanya dengan membaca buku.Untuk terampil orang harus berlatih melalui tindakan, bukan sekadar lewat pemahaman.

Oleh DR. Dewi Matindas, psikolog

Tabloid Gaya Hidup Sehat
Sumber :
Loading...
Sent from Indosat BlackBerry powered by
    Font: A A A
  Kirim Komentar Anda
  • Loading data..
 
Kirim Komentar Anda
Silakan login untuk kirim komentar Anda.
Komentar
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
Dapatkan Informasi Kesehatan Disini!