Kamis, 17 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
KOMPAS
Puluhan Keluarga Mengadu ke Polisi
Rabu, 23 Juli 2008 | 06:46 WIB

JAKARTA, RABU - Jumlah korban yang diduga tewas dibunuh tersangka mutilasi, Verry Idham Henyaksyah alias Ryan (30), mungkin bertambah. Sebanyak 27 pengaduan masuk ke polisi. Sebagian besar melaporkan keluarganya yang hilang setelah pergi bersama polisi.

Sejak polisi membuka laporan pengaduan di 0816851777 dan layanan SMS 1717, kemarin polisi telah menerima tujuh pengaduan lewat telepon dan 20 lainnya lewat SMS. Mereka berasal dari Jombang, Nganjuk, Malang, dan Surabaya, DKI Jakarta, serta sejumlah kota di Jawa Tengah, antara lain Solo.

Demikian disampaikan tim penyidik gabungan Polda Metro Jaya, Polda Jawa Timur, dan Polres Jombang, Jatim, Selasa (22/7). SMS yang disampaikan kepada polisi misalnya berbunyi: Bapak, mantan siswa saya Armand terbunuh 13 April 2007. Apakah ada kemungkinan pelakunya Ryan? Karena riwayat homonya sama. Saya dari Malang Pak. Tolong Polres Malang bisa menyelidiki kasusnya.

Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Carlo Brix Tewu membenarkan hal itu. ”Kasusnya akan ditangani bersama sesuai tempat kejadian perkaranya,” ucapnya.

Kawan Sejenis

Carlo menambahkan, kemarin polisi telah menghubungi keluarga mendiang Vincentius Yudi Pryono (32) alias Vincent. Jenazah Vincent diduga ada di antara empat jenazah yang ditemukan di halaman belakang rumah orangtua Ryan di Jalan Melati, Jati Wates, Tembelang, Jombang.

Aries (18), adik Vincent, yang dihubungi lewat telepon seluler kemarin menjelaskan, Vincent, anak kedua dari empat bersaudara itu, Jumat (14/3) pagi keluar dari indekosannya dengan membawa televisi, kipas angin, magic jar, pemanggang, lemari es, dan laptop. Saat itu Vincent terlihat bersama Ryan, kekasihnya.

”Yang menghubungi dan memberitahu saya adalah karyawati sebuah toko mebel dan elektronik di Jombang, tempat kakak saya bekerja sebagai distributor. Saya menerima kabar itu setelah keluarga kehilangan kontak dengannya sejak Januari 2007,” ungkap Aries.

Aries mengakui, kakaknya yang bekerja sebagai distributor mulai menunjukkan perilaku cinta sejenis sejak bekerja. Tahun 1998, Vincent pindah dari Wonogiri ke Solo. Tahun 1996 ia pindah ke Malang dengan KTP Jombang. Ia lalu bekerja di toko mebel dan eletronik tersebut sejak dua tahun terakhir ini.

Psikolog forensik, Reza Indragiri Amriel, menduga, Ryan adalah pelaku pembunuhan berantai (multiple killer). Mengutip sejumlah hasil riset ia mengatakan, separuh pembunuh berantai mengalami kekerasan psikologis semasa anak-anak. "Kekerasan tersebut antara lain ancaman yang datang dari pengasuh utamanya. Bisa orangtua, paman, atau saudaranya yang lain. Gejala si kecil kala itu sulit buang air, suka merusak hewan dan tanaman, serta suka main api," katanya.

Penulis: C Windoro AT   |   Loading...
Sent from Indosat BlackBerry powered by
    Font: A A A
  Kirim Komentar Anda
  • Loading data..
 
Kirim Komentar Anda
Silakan login untuk kirim komentar Anda.
Komentar
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
Dapatkan Informasi Kesehatan Disini!