Hal yang menambah kesulitan para penderita depresi adalah saat terserang depresi mereka juga sering mengalami gejala fisik, seperti lelah, sering sulit tidur, tidak bergairah, malas, dan enggan beraktivitas. Mereka terdiam, senang menyendiri, dan melamun tidak keruan. Bila ditanya sedang memikirkan apa, mereka tidak dapat menjelaskan apa yang dipikirkan, melainkan merasa seolah di hati ada yang mengganjal tanpa sebab jelas pula.
Pribadi yang rentan
Pribadi yang rentan terhadap depresi adalah yang kurang terbuka terhadap sosialisasi, tidak mampu bersikap asertif, bahkan cenderung mengisolasi diri, kurang afiliatif, tidak mudah akrab dalam berkawan sehingga baru bereaksi bila mendapat stimulasi dari lingkungan, dan mengalami kesulitan dalam mengawali relasi dan cenderung pasif secara sosial.
Jadi, dapat dikatakan sikap mentalnya ditandai sikap pasif reaktif. Biasanya orang ini pun memiliki kecenderungan kuat untuk berpikir sendiri, berdialog dengan diri, serta selalu berupaya memecahkan masalah sendiri. Bahkan segala hal yang dialami akan diolah, disikapi, dan diputuskan sendiri tanpa menyertakan pertimbangan dari orang lain atau lingkungan dan kenyataan.
Hal spesifik pada penderita depresi adalah sering menghukum diri dengan pikiran yang sebenarnya membuat mereka susah sendiri.
Adakalanya ide yang muncul akhirnya dapat dinilai sebagai upaya menghukum diri sendiri, bahkan untuk kesalahan orang lain. Hasil keputusannya pun selalu terkait dengan kepentingan diri, sudut pandang dirinya, walaupun belum tentu menguntungkan dirinya.
Orang tipe ini akan bertahan pada pola pikirnya sendiri, sulit menerima umpan balik. Bila sudah berkeyakinan terhadap suatu hal, maka keyakinan itu akan terus bercokol dalam benaknya dan menjadikannya satu-satunya acuan dalam bersikap.
Kasus
P adalah ayah dua anak (13 dan 8). Sejak selama sekitar satu tahun ia berselingkuh dengan teman sekantornya hingga terjadi kehamilan di luar nikah. Selingkuhannya adalah istri yang sedang bermasalah dalam perkawinannya dan sudah selama dua tahun pisah ranjang.
Dalam kondisi kalut oleh kehamilan tersebut, maka mereka memutuskan melakukan aborsi. Selingkuhan P benar-benar merasa berdosa, baik atas perselingkuhannya maupun aborsi yang dilakukan. Dia berniat memutuskan hubungan dengan P dan meminta ampun kepada Allah SWT atas perbuatannya dengan berniat pergi umroh.
Untuk itu, dia menelepon P saat P sedang di rumah karena hari libur. P begitu terkejut dengan keinginan selingkuhannya memutuskan hubungan sehingga P dengan serius menanggapi melalui telepon yang membuat Ny P bertanya. Apakah ada masalah kantor yang berat? Kenapa serius sekali menanggapi telepon itu?
Dalam keadaan kalut, P akhirnya menceritakan perselingkuhannya kepada Ny P. Tentu saja berita tentang perselingkuhan yang diceritakan sendiri oleh suami tersebut membuat Ny benar-benar terpukul batinnya.
Setelah memberikan reaksi emosi yang merupakan paduan dari rasa marah, kesal, jengkel, benci, dan sekaligus sedih akan perselingkuhan suaminya, Ny P dengan spontan bertanya kepada P, ”Sekarang kamu mau pilih siapa, saya atau selingkuhanmu itu?
”Kamu dan anak-anak,” demikian jawab P dengan tegas.
”Kalau pilih saya, lepaskan perempuan itu,” kata Ny P.
”Ya, pasti. Saya pilih kamu dan anak-anak karena rumah saya di sini dan keluarga saya yang sebenarnya adalah ini,” kata P.
Keluhan lanjut
Lalu Ny P mengungkap keluhan kepada konselor:
”Ibu, apa yang harus saya lakukan untuk membuat saya bangkit kembali? Sejak suami saya memutuskan akan kembali sepenuhnya, awalnya memang saya gembira karena saya tidak akan kehilangan suami saya.
”Namun, kemudian dan saat ini, terkadang saat saya terpukul kembali oleh masalah perselingkuhannya, saya dilanda rasa salah berkepanjangan, kenapa dulu dengan spontan memberi alternatif pilihan kepada suami, pilih saya atau selingkuhannya,
”Pertanyaan itulah yang membuat dia terburu-buru memberikan jawaban dia pilih saya dan anak-anak kami. Memang saya gembira akan pilihannya tersebut, tetapi kemudian saya benar-benar tersiksa oleh rasa salah saya. Timbul pikiran, jangan-jangan suami saya tidak berbahagia hidup bersama saya. Kasihan sekali, ia terpaksa hidup dengan saya dan anak-anak, sambil tidak berbahagia.
”Saya merasa egois. Saya sangat mencintai dan menyayangi suami saya dan tidak tega melihat dirinya hidup tidak bahagia, tetapi saya juga tidak mau kehilangan dia. Saya berkutat dengan konflik antara mau membuat suami kembali kepada selingkuhannya agar dia berbahagia hidupnya, tetapi saya juga tidak rela melepaskan dirinya.
Saya sedih, dan sering melamun sendiri sampai-sampai sulit tidur nyenyak. Rumah semakin berantakan, prestasi kerja saya menurun, gairah hidup saya menurun drastis. Apa yang harus saya lakukan?”
Pemeriksaan psikologi
Dari pemeriksaan psikologi klinis, ternyata Ny P adalah seorang depresan yang sering dilanda konflik psikologis berlanjut terkait dengan keinginan memenuhi kebutuhan diri dan kebutuhan orang yang bermakna bagi dirinya (suami tercinta).
Dari hasil pemeriksaan psikologi klinis, hampir seluruh karakteristik pribadi depresan ada dalam diri Ny P. Rasa salah berlanjut merupakan cara Ny P menghukum diri karena pilihan suami tertuju kepada dirinya, sementara menurut Ny P, suami tidak berbahagia hidup dengan dirinyalah yang membuat suami berselingkuh.
Saran terapi: Solution-focused therapy yang dipadukan dengan pendekatan psikoanalisa dan rogerian method menjadi pilihan teknik terapi yang tepat bagi Ny P.