Kamis, 17 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
KOMPAS
Perkebunan Coklat di Enggano Rawan Kebakaran
Rabu, 14 Mei 2008 | 06:48 WIB
KOMPAS/CAESAR ALEXEY
Samsudin, transmigran asal Jawa yang tinggal Di Desa Banjar Sari, Pulau Enggano, sedang merawat tanaman cokelat di pekarangan rumahnya. Samsudin dan 180 keluarga transmigran lainnya sangat mengharapkan pemberian tanah dua hektar dari Dinas Transmigrasi Bengkulu yang menjadi hak mereka. Penanaman cokelat di tanah itu diharapkan dapat menjadi sumber penghasilan baru setelah hasil laut tidak dapat diharapkan lagi oleh para nelayan transmigran di Pulau Enggano
TERKAIT:

ENGGANO, RABU - Ratusan hektar perkebunan coklat di Pulau Enggano, Provinsi Bengkulu rawan kebakaran. Kepala Desa Malakoni, Suwaidi Karubi (51) yang ditemui Rabu pagi (14/5) menjelaskan, terakhir kali terjadi kebakaran hutan Bulan Oktober 2007 menghabiskan ratusan hektar kebun coklat.

"Kalau sekurangnya ada 500 keluarga bertanam coklat dengan lahan dua hektar, ada seribu hektar lahan kebun terbakar. Tidak ada lahan kosong untuk penyangga pencegah kebakaran di kebun warga," kata Suwaidi.

Kebakaran itu mengakibatkan warga kehilangan potensi pendapat jutaan hinggap puluhan juta rupiah tiap keluarga.Daniel Hutapea (52) guru SDN 01 Apoho yang juga bertani coklat, mengaku kehilangan tiga hektar tanaman coklat. "Kalau sudah kemarau panjang, kebun di Enggano rentan terhadap kebakaran," kata Hutapea.

Berkebun coklat merupakan salah satu sumber penghasilan utama penduduk Pulau Enggano yang 60 persen juga hidup sebagai nelayan.

Penulis: Iwan Santosa   |   Loading...
Sent from Indosat BlackBerry powered by
    Font: A A A
  Kirim Komentar Anda
  • Loading data..
 
Kirim Komentar Anda
Silakan login untuk kirim komentar Anda.
Komentar
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
Dapatkan Informasi Kesehatan Disini!