KARANGASEM, MINGGU - Wabah muntaber melanda sedikitnya tiga kecamatan di Karangasem, Bali, sejak tiga hari terakhir. Sedikitnya, 50 orang harus dilarikan ke Puskesmas dan rumah sakit terdekat untuk mendapatkan perawatan. Sejauh ini, satu orang dilaporkan meninggal dunia.
Tiga kecamatan yang terkena wabah muntaber itu meliputi kawasan yang relatif berada di dataran tinggi di Karangasem, yakni Selat, Bebandem, dan Sidemen . Kecamatan Selat dinyatakan paling mengkhawatirkan, karena muntaber telah menyerang 34 warga di sejumlah desa. Jumlah penderita dimungkinkan terus bertambah karena warga dilaporkan terus berdatangan ke Puskesmas maupun RS terdekat.
Kepala Puskesmas Selat dr. Gusti Gede Widia, yang dihubungi Minggu (23/3) mengungkapkan, para penderita muntaber di daerahnya mulai berdatangan ke puskesmas pada Kamis (20/3) lalu. Saat itu baru masuk dua orang, satu rawat inap dan satu rawat jalan. Namun hari berikutnya, jumlah pasien bertambah menjadi 20 orang, masing-masing sepuluh orang rawat jalan dan rawat inap, di mana empat di antaranya dirujuk ke RSUD Karangasem dan Klungkung. Ironisnya, seorang warga yang juga seorang pemangku Pura Puseh Desa Pakraman Bukit Galah, Sebudi, Selat, yakni Jero Mangku Wayan Keman (58), meninggal dunia tanpa sempat mendapat pertolongan.
Sejauh ini belum dapat dipastikan penyebab maupun sumber mewabahnya penyakit muntaber di daerah itu. Sampel dari sejumlah sumber air yang dikonsumsi warga, di antaranya Sungai Yeh Kori, Bukit Galah, dan Sebun sudah dikirim ke Dinas Kesehatan Provinsi Bali di Denpasar untuk diteliti. Di samping itu, sampel muntahan dan kotoran pasien juga diambil. Dari hasil pemeriksaan sampel itu diharapkan diketahui penyebab wabah itu dalam satu-dua hari mendatang .