Kamis, 17 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
KOMPAS
Duka Lara Mariani Berakhir di RSHS
Kamis, 20 Maret 2008 | 14:22 WIB

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Siti Fatimah
BANDUNG, KAMIS-
Sungguh malang nasib Mariani (36). Perempuan yang lumpuh sejak menjalani persalinan pada tahun 2006, akhirnya mengembuskan nafas terakhir. Lumpuh tak kunjung sembuh, nyawa tak lagi bisa direngkuh.

Kamis (20/3) pukul 08.00 Mariani dinyatakan meninggal di RS Hasan Sadikin. Warga Jalan Taman Lestari Blok D, Batam, Kepulauan Riau, yang dirawat di RS Hasan Sadikin (RSHS), Bandung sejak Selasa (11/3), memulai elegi kehidupan ketika melahirkan anak ketiganya.

Ketika itu, Mariani hendak melahirkan bayi. Kisah tragisnya berawal pada Jumat, September 2006, saat Mariani dibawa ke RSOB (Rumaah Sakit Otorita Batam) untuk menjalani persalinan.

Saat itu, Mariani ditangani seorang bidan bernama Fatmawati. Bidan tersebut mengatakan kepada Bujang (36), suami Mariani, bahwa bayi yang dikandung istrinya terlipat dan dalam posisi tidak siap lahir sebagaimana umumnya. Kepala sang bayi tidak berada di mulut rahim.

"Tapi bidan maksa bayi itu keluar dengan cara perut Mariani didorong. Dan, pas keluar, pantat duluan, bukan kepala." Demikian dikisahkan Mulyadi, kakak Mariyani kepada Siti Fatimah dari Tribun Jabar di Bandung.

Setelah itu, Mariani dibawa ke ruang rawat inap. Entah bagaimana kejadiannya, dua hari menjelang kepulangannya ke rumah -- setelah melahirkan bayi perempuan seberat 2,9 kilogram -- pihak keluarga mendapat kabar Mariani sakit dan mengalami kejang-kejang.

"Dari informasi yang saya dapat, adik saya sempat diberi obat penurun panas warna merah. Tidak lama setelah minum obat itu, adik saya pusing. Adik saya, yang saat itu sendirian di ruang rawat inap, terjatuh dan kepalanya terbentur besi pinggiran tempat tidur. Setelah itu, adik saya sakit," kata lelaki berkulit hitam ini.

Sejak itu, perempuan malang asal Padang Pariaman, Sumatera Barat, ini menghabiskan hari-harinya di tempat tidur, sebelum akhirnya diboyong ke RS Hasan Sadikin, Bandung.


Kondisi terakhir fisik Mariani sungguh mengenaskan. Tubuhnya seolah tinggal tulang berbalut kulit. Bahkan, kedua kakinya yang kurus juga sudah "tertekuk", menyatu dengan paha dan tidak bisa lagi diluruskan.

Sejak sakit September 2006, Mariani memang sudah tidak bisa lagi berbicara. Hanya matanya yang dianggap keluarganya bisa mewakili keinginannya.

Hingga siang tadi belum ada keterangan resmi dari pihak RSHS, tempat Mariani ingin mendapatkan kesembuahn. Namun, beberapa saat sebelum meninggal, Maryani
sempat mengalami kejang-kejang.

Loading...
Sent from Indosat BlackBerry powered by
    Font: A A A
  Kirim Komentar Anda
  • Loading data..
 
Kirim Komentar Anda
Silakan login untuk kirim komentar Anda.
Komentar
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
Dapatkan Informasi Kesehatan Disini!