Sabtu, 11 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
KOMPAS
Tulang Punggung Keluarga Itu Telah Pergi
Kamis, 6 Maret 2008 | 18:13 WIB

TAK banyak yang mengira bahwa Hadi Marsiadi harus meninggalkan orang-orang dekatnya dalam usia yang masih muda, 22 tahun. Pria yang sehari-hari bekerja sebagai petugas kebersihan (cleaning servis) di PT Gunung Human Pratama (GHP) tersebut menghembuskan nafasnya yang terakhir saat menjalankan tugasnya.

Ia terjatuh bersama gondola yang dinaikinya di Plaza Semanggi, Jakarta, Kamis (6/3) pagi. Hadi tewas bersama satu korban lainnya, yakni seorang teknisi di PT Simpati Gondola, Syamsul Arif.

Hadi adalah putra sulung pasangan almarhum Saman dan Masna. Sejak kematian ayahnya pada 2001 lalu ,ia menjadi tulang punggung keluarga. Ibunya yang sebelumnya membuka warung nasi uduk harus menutup usahanya karena kekurangan modal. Adik keduanya, Yatna, yang telah tamat SMA masih menganggur. Dua adiknya yang lain, masing-masing Manda dan Lana masih duduk di bangku SMA dan SD.

"Saya belum dapat kerja. Cuma di rumah. Bantu-bantu ibu," kata Yatna yang mendampingi ibunya di kamar pemulasaraan jenazah Rumah Sakit Umum Pusat Cipto Mangunkusumo (RSCM).

Maka, dari gaji Hadilah, Masna dan anak-anaknya yang tinggal di sebuah rumah kontrakan di Jalan Ceruk Jaya Nomor 6 RT 07/RW 01 Pondok Gede, Bekasi itu menyandarkan hidupnya. "Biasanya tiap bulan ibu dikasih Rp 400.000 dan sebagian (untuk) bayar kontrakan sebesar Rp 300.000," jelas Yatna.

Untuk menyenangkan adik-adiknya, pria yang dikenal suka bercanda oleh teman-teman dekatnya itu sesekali membelikan baju dan juga bakso.

Firasat

Sebagai ibu, Masna mengaku sudah punya firasat kurang baik, tetapi ia pendam sendiri. Sebulan lalu, wanita asal Bekasi ini pernah mimpi bahwa gigi atas Hadi ada yang copot. Karena itu, ia sangat mengkhawatirkan anaknya itu. 

"Dalam keyakinannya, kalau mimpi gigi atas yang copot, mungkin ada apa-apanya dengan anak tertuanya itu," kata Masna. Ia pun sudah memperingatkan Hadi agar lebih berhati-hati dalam melaksanakan pekerjaannya. "Saya ingatkan dia agar lebih hati-hati kerjanya. Hadi-nya bilang kalau mati di mana aja jadi," cerita Masna.

Masna tak menyangka bahwa pertemuannya dengan sang buah hati pukul 06.00 pagi tadi (6/3) merupakan pertemuan mereka yang terakhir. Ia belum memikirkan apa yang bisa mereka lakukan saat ini. Pasalnya, Hadi adalah tulang punggung satu-satunya keluarga sebelum ia menghembuskan nafasnya yang terakhir.

Penulis: SMS   |   Loading...
Sent from Indosat BlackBerry powered by
    Font: A A A
  Kirim Komentar Anda
  • Loading data..
 
Kirim Komentar Anda
Silakan login untuk kirim komentar Anda.
Komentar
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.
Dapatkan Informasi Kesehatan Disini!