
Lagi-lagi spiritualitas! Bahkan, di tempat kerja pun kita perlu mengusahakannya demi keseimbangan hidup yang menjanjikan kesejahteraan menyeluruh. Bagaimana mencapainya?
Tulisan minggu lalu mengupas apa itu spiritualitas kerja dan bagaimana hal itu menjadi perhatian di Amerika. Akibat sistem manajemen yang cenderung impersonal dan konsumerisme yang mengiringi pertumbuhan ekonomi, banyak orang kehilangan makna dari pekerjaannya dan mendambakan untuk menemukan kembali makna pekerjaan.
Cacioppe dalam The Leadership & Organization Development Journal mengungkapkan: "Pertumbuhan ekonomi tidak membuahkan kebahagiaan karena terjadi konsumerisme (yang sifatnya adiktif). 'Kita bekerja dan membayar sesuatu, bekerja lagi dan lebih banyak lagi yang kita bayar. Kita harus keluar dari lingkaran ini'. Kenyataan bahwa kita telah mengikuti suatu sistem keyakinan yang tidak lengkap dan dangkal, hasilnya membuat kita kehilangan makna dan merasa tidak sehat dalam hidup.
Menemukan makna pekerjaan merupakan fokus dari spiritualitas. Banyak orang di tempat kerja merasa butuh menemukan kembali apa yang mereka rawat dalam hidup ini dan mencoba menemukan pekerjaan yang disukainya. Orang-orang mencari suatu cara untuk menjadi diri sendiri dan ingin menemukan jalan untuk lebih otentik dalam melakukan sesuatu. Dalam rangka itu, perusahaan harus peduli terhadap kesejahteraan fisik, emosi, dan spiritual, secara menyeluruh."
Spiritualitas yang dikembangkan di tempat kerja diharapkan dapat memulihkan kembali harmoni dalam hidup secara keseluruhan.
Manfaat
Seperti tersirat dari uraian Cacioppe, mengembangkan spiritualitas kerja memiliki manfaat bukan saja bagi individu bersangkutan, melainkan juga bagi organisasi tempatnya bekerja. Berbagai narasumber yang menyumbangkan tulisannya mengenai spiritualitas kerja, menjelaskan manfaat spiritualitas kerja:
McCormick dalam Journal Managerial Psychology, menjelaskan dalam kaitan dengan semakin banyaknya manajer yang berusaha menggabungkan spiritualitas dan manajemen:
"… mengintegrasikan spiritualitas dan kerja memberikan makna yang dalam terhadap pekerjaan para manajer. Hal itu akan memberikan nilai-nilai yang paling dalam untuk menunjang pekerjaannya dan juga memberikan harapan akan adanya pemenuhan mendalam secara seimbang."
Ashmos & Duchon dalam Journal of Management Inquiry menguraikan:
"Suatu tempat kerja, di mana orang mengalami kegembiraan dan makna dalam pekerjaannya, merupakan tempat di mana spiritualitas lebih menonjol. Tempat kerja di mana orang melihat dirinya sebagai bagian dari komunitas yang dapat dipercaya, di mana mereka mengalami perkembangan pribadi sebagai bagian dari komunitas, di mana mereka merasa dihargai dan didukung, merupakan sebuah tempat kerja di mana spiritualitas berkembang."
Laabs dalam Personnel Journal menjelaskan berdasarkan pergeseran nilai sehubungan dengan berkembangnya perspektif spiritualitas kerja:
"Adanya perspektif spiritualitas selalu memungkinkan terjadinya pergantian nilai-nilai di tempat kerja. Pergantian ini bergerak dari ketakutan (bahwa dirinya tidak mampu untuk berbicara berterus terang dan ketakutan mengenai apa yang dipikirkan oleh orang lain) menuju kerja sama di tempat kerja.
Bila Anda mengimplementasikan nilai-nilai baru… meninggalkan kompetisi, mengusahakan kerja sama, membuat orang-orang merasa setara dan memungkinkan mereka untuk hidup dalam lingkungan yang bebas dari rasa takut, Anda bukan hanya akan menemukan intuisi dan kreativitas orang-orang di dalam organisasi, melainkan juga menemukan rasa memiliki terhadap organisasi."
Collins & Porras mengungkapkan manfaat yang diperoleh organisasi bila mendasari diri dengan nilai-nilai spiritualitas di tempat kerja:
"Terdapat perubahan yang nyata pada berbagai organisasi yang semula mencoba bebas nilai (value free) menjadi menekankan perkembangan nilai-nilai yang bermanfaat bagi organisasi, tenaga kerja, pelanggan, dan orang-orang lain yang terlibat (share holders). Organisasi yang didasari dengan nilai-nilai (value-based organizations) dinilai lebih sukses oleh para penulis modern."
Dari berbagai manfaat tersebut di atas, beberapa yang perlu ditegaskan sebagai kesimpulan adalah bahwa perspektif spiritualitas kerja memberikan nilai-nilai yang paling dalam bagi individu untuk menunjang pekerjaan. Selain itu, memberikan harapan akan adanya pemenuhan diri secara mendalam dan seimbang, sehingga mengalami kegembiraan dan makna dalam pekerjaannya, dapat melihat dirinya sebagai bagian dari komunitas yang dapat dipercaya, mengalami perkembangan pribadi sebagai bagian dari komunitas di mana mereka merasa dihargai dan didukung.
Bila organisasi memberikan peluang spiritualitas kerja dengan membangun nilai-nilai kebersamaan, hal itu membuat orang merasa setara dan memungkinkan mereka hidup dalam lingkungan yang bebas rasa dari takut, sehingga lebih tajam dalam intuisi dan kreativitas, serta rasa memiliki terhadap organisasi.
Cara Mengembangkan
Bagaimana langkah mengembangkannya? Menurut Cacioppe, langkah awal yang penting dalam perjalanan spiritual di tempat kerja adalah: pekerja mengidentifikasi nilai-nilai mereka yang paling penting. Hal ini membuat mereka memfokuskan diri pada keyakinan inti yang dipegang dalam hidup.
Proses ini menjadi sangat penting setelah menghasilkan prioritas dan tindakan-tindakan dalam hidup seseorang, meski dapat menyebabkan perbedaan nilai-nilai antarindividu, selain dengan nilai-nilai dan sasaran-sasaran organisasi.
Langkah selanjutnya mempertanyakan dan membentuk kembali peran kerja di organisasi dan menjajaki kembali makna dan nilai-nilai pekerjaan. Meskipun proses tersebut dapat dianggap tidak relevan, bahkan mengancam, ini merupakan bagian dari proses pembelajaran dan perkembangan individu dan organisasi.
Mengenai hal ini Senge menegaskan, hanya organisasi pembelajar (learning organizations) yang mau mempertanyakan dan menguji alasan bagi eksistensinya maupun metode operasinya, yang dapat bertahan dan sukses pada abad XXI.
Dengan penegasan Senge di atas, jelas sekali peran organisasi sangat diperlukan. Berbagai organisasi umumnya sekarang ini menuliskan pernyataan nilai dan visi yang tidak hanya memberikan arah bagi rencana operasi bisnis, tetapi bertujuan memotivasi dan memberi inspirasi para pekerja agar memiliki komitmen terhadap tujuan yang bermanfaat.
Beberapa perusahaan besar seperti Proctor and Gamble, 3M Corporation, Motorola, Wal-Mart, memberikan bantuan bagi karyawannya untuk menguji visi pribadi dan nilai-nilai hidupnya, dan peduli sumber daya manusia (SDM). Ini berarti mereka telah mendukung spiritualitas dengan tema-tema tersebut. Body Shop dan Harley Davidson sukses mengombinasikan motif profit dengan nilai-nilai tanggung jawab sosial dan pekerjaan yang bermakna.
Collins & Porras dalam buku Built to Last; Successful Habits of Visionary Companies, menampilkan daftar perusahaan yang tak hanya sukses, melainkan berhasil menjadi best of the best. Mereka menjadi ikon dalam praktik manajemen di seluruh dunia.
Sebagian dari perusahaan itu adalah empat perusahaan yang memberikan bantuan bagi karyawannya untuk menguji visi pribadi dan nilai-nilai hidupnya, dan peduli akan SDM, antara lain Boeing, Ford, IBM, Johnson & Johnson, Philip Morris, Sony. Oleh Collins & Porras disebut Visionary Company karena merupakan institusi yang mampu membangun diri secara berbeda, menjadi sangat spesial dan elit.
12 Ciri Perusahaan Visioner
Berdasarkan risetnya selama enam tahun, Collins & Porras menemukan 12 ciri khas Visionary Companies, menghancurkan mitos tentang perusahaan visioner. Beberapa di antaranya menunjukkan bahwa spiritualitas telah menjadi perhatian penting:
Bukan keuntungan yang dikejar. Nilai-nilai inti (ideologi) dan sense of purpose (perasaan berguna, penuh tujuan) merupakan hal yang dianggap sama-sama penting seperti halnya mencari keuntungan. Dengan ideologi tersebut, yang terpenting bukan hanya apa isinya, melainkan bagaimana dalamnya keyakinan akan ideologi tersebut, bagaimana dilaksanakan secara konsisten, dan mengekspresikannya dalam semua hal yang dilakukan.
Tidak berlaku mitos "yang tetap adalah perubahan". Visionary Companies memelihara ideologi intinya hampir-hampir secara religius. Bila toh pernah berubah, itu sangat jarang. Nilai-nilai inti membentuk suatu dasar yang sangat kuat dan solid, tidak berubah hanya karena tren dan mode yang berkembang.
Akhirnya, hanya organisasi yang memberi tempat bagi spiritualitas yang berhasil menjadi best of the best. Di sisi lain, spiritualitas merupakan hal yang sangat mendalam, sangat tergantung pada kesediaan individu-individu untuk menggalinya melalui nilai-nilai pribadi dan nilai-nilai organisasi tempatnya bekerja. Pada dasarnya kita memang membutuhkan keseimbangan dalam hidup